Persamaan nilai RI-AS muluskan perpanjangan ‘Generalized System of Preferences’

Persamaan nilai RI-AS muluskan perpanjangan ‘Generalized System of Preferences’
“Proses GSP (Generalized System of Preferences) telah berlangsung selama 2,5 tahun. Saya melihat banyak sekali permasalahan di dalamnya. Perdagangan masa lalu adalah persaingan. Namun saat ini adalah era kolaborasi,” jelas Duta Besar RI untuk AS, Muhammad Lutfi, dalam jump apers virtual pada Senin (2/11/2020). (Indonesia Window)

Jakarta (Indonesia Window) – Indonesia dan Amerika Serikat memiliki sejumlah nilai dan norma yang sama, sehingga memuluskan proses negosiasi perpanjangan Generalized System of Preferences (GSP) yang telah berlangsung selama 2,5 tahun.

“Proses GSP telah berlangsung selama 2,5 tahun. Saya melihat banyak sekali permasalahan di dalamnya. Perdagangan masa lalu adalah persaingan. Namun saat ini adalah era kolaborasi,” jelas Duta Besar RI untuk AS, Muhammad Lutfi, dalam jumpa pers virtual pada Senin (2/11).

Generalized System of Preferences memberikan perlakuan bebas bea untuk barang dari negara penerima yang ditunjuk.

Pemerintah Amerika Serikat, melalui United States Trade Representative (USTR) atau perwakilan perdagangan AS, pada 30 Oktober 2020 mengeluarkan keputusan untuk memperpanjang pemberian fasilitas GSP kepada Indonesia.

Persamaan nilai yang dimiliki oleh kedua negara dalam hal demokrasi, kebebasan memilih, serta menjunjung tinggi hukum, menjadi alasan AS untuk memperpanjang fasilitas GSP bagi Indonesia, ujar Dubes Lutfi.

Dia mencontohkan Laos dan Vietnam tidak mendapatkan fasilitas perdagangan tersebut karena nilai dan norma kedua negara itu berseberangan dengan Amerika Serikat.

Lebih lanjut Dubes menerangkan bahwa GSP memiliki nilai strategis bagi perdagangan antara Indonesia dan AS di era kolaborasi.

“GSP juga bagian dari diplomasi perdagangan dan politik AS,” ujarnya, seraya menegaskan keyakinannya bahwa fasilitas tersebut akan terus diperpanjang oleh AS untuk merangkul negara-negara yang memiliki cara berpikir sama.

“Mungkin saja Kongres AS memutuskan untuk tidak memperpanjang payung GSP. Tapi (fasilitas) ini sudah sejak 1974, dan sudah 15 kali diperpanjang. Dan ini adalah strategis perdagangan AS di era kolaborasi,” tegasnya.

Menurut Dubes Lutfi, GSP akan memperbaiki sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di tanah air.

“Misalnya, perhiasan yang nilai perdagangannnya 267 juta dolar AS atau hampir 4 triliun rupiah,” katanya.

Produk UKM lainnya yang akan diuntungkan dengan GSP adalah produk HS42 travel goods seperti ransel dan tenda untuk berkemah.

“HS42 travel goods seperti tenda dan ransel banyak dipakai oleh masyarakat AS. Ini dihasilkan dari perusahaan kelas menengah di Bandung,” ujar Dubes Lutfi, seraya menambahkan bahwa produk pintu dan perabotan yang juga dihasilkan dari UKM akan didorong dengan fasilitas GSP.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here