Perjanjian COP26 tak tegaskan pengurangan batu bara dan bahan bakar fosil

Ilustrasi. Protes perubahan iklim. (Markus Spiske on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Draf perjanjian KTT iklim COP26 PBB yang diperbarui tidak terlalu menegaskan komitmen untuk mengurangi penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil lainnya.

Rancangan keputusan, yang kedua dirilis pekan ini, sedang dinegosiasikan oleh perwakilan dari hampir 200 negara dan versi final harus disetujui oleh semua negara di KTT.

Rancangan hari Rabu (10/11) meminta negara-negara untuk “mempercepat penghapusan bertahap batu bara dan subsidi bahan bakar fosil”, tetapi versi terbaru hari Jumat menyatakan bahwa negara-negara harus mempercepat “penghapusan bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara dan subsidi yang tidak efisien untuk bahan bakar fosil”.

Rusia, Arab Saudi, India, dan negara-negara lain mendorong KTT untuk melunakkan bahasa tentang batu bara dan bahan bakar fosil.

Draf baru juga sekarang ‘mengundang’ pihak-pihak untuk mempertimbangkan lebih banyak tindakan guna mengurangi emisi pada tahun 2030, daripada draf awal yang mendesak negara-negara untuk memperkuat target pada akhir tahun depan.

Australia berkomitmen untuk mencapai nol bersih pada tahun 2050, tapi target formalnya untuk mengurangi emisi karbon sebesar 26 hingga 28 persen di bawah tingkat tahun 2005 pada tahun 2030 tetap sama, seperti ketika ditetapkan di Paris pada tahun 2015 ketika Tony Abbott menjadi perdana menteri.

Tujuan inti konferensi adalah untuk membatasi pemanasan global pada 1,5 derajat Celsius dibandingkan dengan suhu pra-industri, yakni target yang awalnya ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015, yang menurut para ilmuwan akan membatasi aspek terburuk dari perubahan iklim.

Climate Action Tracker telah menghitung bahwa dunia sedang menuju kenaikan 2,4 derajat Celsius, sementara analisis University of Melbourne yang diterbitkan pekan lalu menemukan jika kontribusi yang ditentukan secara nasional (nationally determined contributions) dan janji emisi semua negara terpenuhi, perkiraan terbaik dari puncak pemanasan abad ini akan menjadi 1,9 derajat Celsius.

Pada hari Kamis (11/11), Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan tujuan 1,5 derajat Celsius adalah pada “penopang kehidupan” dan bahwa pengurangan emisi tidak ada artinya karena negara-negara terus berinvestasi dalam bahan bakar fosil.

“Janji-janji menjadi hampa ketika industri bahan bakar fosil masih mendapat subsidi triliunan,” katanya.

KTT iklim 2021 di Glasgow, Skotlandia dijadwalkan berakhir pada Jumat, pukul 18.00 waktu setempat, tetapi kemungkinan akan berlanjut hingga akhir pekan, seperti yang terjadi pada pertemuan sebelumnya.

Sumber: abc.net.au

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan