Perjalanan jauh ke Gontor

Perjalanan jauh ke Gontor
Ilustrasi. (İbrahim Mücahit Yıldız from Pixabay)

Waktu masih duduk di kelas 1 SD, terkadang aku tak ingin sekolah.

Bisa dibilang aku merasa nggak betah, karena di kelas banyak anak yang berisik dan nakal.

Teman sekelasku pernah di-bully. Perutnya ditonjok. Karena aku ikut membelanya, aku juga kena bully.  Anak lelaki mainnya selalu kasar!

Setelah kejadian itu aku trauma.

Saat di kelas 2, aku ikut pencak silat. Kalau di rumah, aku diajari mappamacca’ (bela diri orang Bugis) oleh ayah.

Ayah bilang, “Radhwa hanya boleh melawan kalau diserang duluan. Tidak boleh mendahului.”

Jilbabku pernah ditarik kasar oleh temanku, lantas aku pelintir tangannya, lalu aku sepak dia.

Sejak itu mereka sudah tidak pernah mem-bully aku, dan berjanji tidak akan melakukan kenakalan seperti itu lagi. Jika mereka membully lagi, orangtua mereka akan dipanggil oleh guru.

Waktu di kelas 4, ayah temanku minta maaf langsung ke Radhwa di depan guru, karena anaknya nakal.  Akhirnya temanku pun berubah.

Gontor

Sekarang, Radhwa tidak berjumpa lagi dengan teman-teman SD sejak menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor.

Di sini tidak ada bully, karena hukumannya berat. Semua santri sibuk belajar dan melakukan banyak kegiatan.

Selain itu, kami juga tidak pegang ponsel dan main internet.

Kalau kangen orangtua, kami hanya boleh menggunakan telepon di wartel (warung telekomunikasi).

Dari buku yang Radhwa baca, kalau kita menuntut ilmu maka kita fii sabilillahi (berada di jalan Allah ﷻ).

“Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia fii sabilillahi (di jalan Allah) sampai kembali.”

Apa maksudnya?

Ini berarti kita dilindungi Allah ﷻ dan akan selalu ditolong saat menuntut ilmu. Tapi ini hanya berlaku jika menuntut ilmu ikhlas karena Allah ﷻ.

Perlindungan dan pertolongan Allah ﷻ itu macam-macam. Misalnya, saat kita dalam perjalanan ke sekolah atau pesantren kita terhindar dari musibah. Atau bisa saja ada orang yang menawarkan kita tumpangan. Atau saat kita nyasar, ada yang berbaik hati mengantarkan kita sampai tujuan dengan selamat.  Ini semua tanda bahwa Allah ﷻ menolong kita.

Namun, dalam menuntut ilmu pasti ada saja cobaan yang menghadang kita.

Seperti di Gontor yang sangat ketat menerapkan disiplin terhadap para santri dalam hal apa pun. Jika ada yang melanggar aturan, maka hukuman-lah “hadiahnya”.

Radhwa hanya bisa bersabar, dan ingat selalu dengan mahfudzot (kata-kata mutiara) ini.

“Sabar itu dapat membantu setiap pekerjaan, bersabarlah. Maka semua kesusahanmu akan dimudahkan”.

Yup, siapa yang sungguh-sungguh berusaha pasti akan mendapatakan apa yang diinginkan. Man jadda wa jada.

Oh iya, kemarin aku membeli buku berjudul “Berjalan Jauh Mencari Ilmu” yang ditulis oleh Muhammad Yasir, Lc.

Dia mengatakan, ilmu yang bermanfaat akan mendatangkan amal yang tidak akan terputus, Insya Allah, walaupun pemiliknya telah tiada.

Amal yang tidak terputus itu seperti ilmu yang diajarkan oleh guru kita, dan ilmu itu selalu kita manfaatkan dalam kehidupan kita. Ini jadi amal jariyah buat guru kita.

Ada kisah tentang guru dan murid, yaitu Nabi Khidir ‘alaihissalam dan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Suatu ketika, Nabi Musa ingin menuntut ilmu ke Nabi Khidir. Maka, berjalanlah mereka ke arah pelabuhan. Sesampainya mereka di pelabuhan, Nabi Khidir melihat sebuah kapal kecil yang akan dinaiki oleh seorang nelayan yang telah lanjut usia.

Lalu, Nabi Khidir pun naik ke kapal kecil itu dan menghancurkannya.

Saat melihat kejadian itu, Nabi Musa bertanya,”Wahai Nabi Khidir, mengapa engkau menghancurkan kapal kecil itu? Kasian kakek itu!”

“Ikutlah saja denganku, jangan banyak bertanya. Sesungguhnya ada sesuatu di balik itu,” ujar Nabi Khidir.

Nabi Musa jadi bingung karena tiga kali beliau memprotes Nabi Khidir, tapi selalu cuma dijawab, “Jangan banyak tanya, sesungguhnya ada sesuatu di balik itu.”

Ketinggian ilmu Nabi Khidir membuat Nabi Musa jadi diam dan tetap mengikutinya.

Setelah selesai melakukan perjalanan, akhirnya Nabi Khidir ‘alaihissalam pun menjelaskan semua “keanehan-keanehan” yang dilakukannya di hadapan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Dari kisah ini, Radhwa berpikir bahwa kita harus mengikuti ajaran guru karena pasti ada maksud dari semua hal yang dilakukannya, meskipun bagi kita tampak membingungkan.

Penulis: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim (santri Pondok Modern Gontor Putri, Ngawi kelas 2 reguler; penulis novel bergambar ASGIT 1 dan ASGIT 2; penulis buku puisi-pantun “Sia-sia Saja Air Matamu”)

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here