Perayaan Imlek bertepatan dengan Ramadan, Menag RI tekankan pentingnya toleransi agama dan budaya

Pernak-pernik Tahun Baru Imlek terlihat di sebuah toko di Glodok, Jakarta, pada 10 Januari 2026. (Xinhua/Indalia Jayadinata)

Awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 berlangsung dua hari setelah perayaan Imlek, di mana topik terkait toleransi antara umat Khonghucu dan Muslim baru-baru ini ramai dibahas di platform media sosial.

 

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 1.000 penganut agama Konghucu dari seluruh Indonesia menghadiri perayaan Imlek nasional yang diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) di Jakarta pada Ahad (22/2) sore. Sejumlah tokoh yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan pesan penting untuk menjaga persatuan di tengah momentum perayaan Imlek kali ini, yang bertepatan dengan bulan Ramadan.

Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia (RI) Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa perayaan Imlek tahun ini terasa lebih meriah, yang mengindikasikan masyarakat Indonesia semakin terbuka dengan komunitas Konghucu sejak pertama kali dikukuhkan sebagai agama resmi nasional dan perayaan Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional lebih dari dua dekade yang lalu. Sang menteri menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman keyakinan yang ada di Indonesia.

"Umat Konghucu di Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan bangsa. Kontribusi mereka dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya merupakan wujud nyata keberagaman agama, suku, dan budaya. Umat Konghucu turut memperkaya mosaik kebangsaan Indonesia," ujar Umar dalam pidatonya.

Mengungkapkan hal senada, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani menekankan pentingnya menjaga persatuan sebagai sebuah bangsa dalam perayaan Imlek tahun ini. Seremoni Imlek kali ini turut dihadiri oleh Susilo Bambang Yudhoyono, presiden keenam RI.

Ketua Umum MATAKIN Budi Santoso Tanuwibowo turut menekankan pesan penting untuk memelihara kebersamaan di tengah perayaan Imlek tahun ini, yang bertepatan dengan jatuhnya bulan Ramadan bagi umat Muslim. Awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 berlangsung dua hari setelah perayaan Imlek, di mana topik terkait toleransi antara umat Khonghucu dan Muslim baru-baru ini ramai dibahas di platform media sosial.

"Ini membuktikan bahwa kita sebagai manusia, meski ada perbedaan, pasti ada titik temu dan momen kebersamaan yang harus kita rayakan dan sikapi dengan kebaikan. Ini harus terus dipelihara," tutur Tanuwibowo.

Arif Gunawan, salah satu penganut agama Konghucu asal Jakarta yang turut menghadiri acara itu, menyebut sambutan masyarakat terhadap umat Konghucu semakin menguat dari tahun ke tahun, sehingga dia dan keluarganya kian nyaman untuk menjalankan ibadah. Dia berharap Tahun Baru Kuda Api membawa keberkahan bersama, dan persatuan antarumat beragama di Indonesia dapat terus terjaga. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait