Peneliti: Abu batu bara efektif sebagai bahan pembenah tanah

Peneliti: Abu batu bara efektif sebagai bahan pembenah tanah
Ilustrasi. Hasil penelitian terakhir dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Kementerian ESDM menyebutkan FABA (flying ash and bottom ash) atau abu batu bara efektif sebagai pembenah tanah atau pupuk. (Ameen Fahmy on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Abu batu bara atau disebut juga fly ash and bottom ash (FABA) yang dihasilkan dari Pembangkitan Listrik Tenaga Uap (PLTU) menyimpan banyak manfaat untuk menghasilkan beragam produk diverfikasi bahan baku konstruksi.

Bahkan, hasil penelitian terakhir dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Kementerian ESDM menyebutkan FABA efektif sebagai pembenah tanah atau pupuk.

Dalam webinar ‘Prespektif Pengelolaan FABA Sebagai Limbah Non-B3’ pada Senin (5/4), Peneliti Puslitbang tekMIRA Wulandari Surono menyatakan keputusan untuk memanfaatkan FABA sebagai pembenah tanah sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021, Pasal 463 (1f) yang menyebutkan bahwa pemanfaatannya wajib memenuhi persyaratan standar produk yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian.

Menurut dia, karateristik FABA yang cocok untuk tanah dan tanaman secara umum harus memiliki partikel halus; Power of Hydrogen (pH) berkisar 4,5 – 12; serta mengandung senyawa SiO2, Al2O3, Fe2O3, K2O, Na2O, CaO,MgO, MnO dan usur lain seperti Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, Co.

“Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak semua abu batu bara bersifat alkali, tapi ada juga yang asam, tergantung dari kandungan sulfur dalam batu bara, pembakaran, dan teknologi penghilangan. Intinya kandungan sulfur berbanding dengan kandungan kalsium,” jelas Wulandari.

Dia melanjutkan, FABA lebih tepat digunakan pada lahan kering asam dan lahan gambut lantaran keduanya memiliki komposisi yang buruk.

“Tanah yang baik memiliki porsi fraksi yang berimbang sehingga tata udara, tata air, dan porositasnya baik,” ujar Wulandari.

Selain mampu memperbaiki pH (tingkat keasaman) tanah dan insektisida, FABA juga bisa memperbaiki tekstur tanah, aerasi, perkolasi dan meningkatkan kemampuan menahan air di area kelola; menurunkan bulk density (kapadatan) tanah; serta mengurangi konsumsi material amelioran tanah lainnya.

Amelioran adalah bahan yang dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan kondisi fisik, kimia dan biologi tanah.

FABA juga mengandung hampir semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman kecuali unsur C (karbon) dan N (nitrogen); dapat menurunkan mobilitas dan ketersediaan logam dalam tanah karena fly ash yang basa dan mengandung AI dan Fe sebagai sumber kation polivalen.

Simpulan tersebut diperoleh setelah Pulitbang tekMIRA dan lembaga lainnya melakukan beberapa uji coba dengan menggunakan fly ash PLTU Kalimantan pada periode antara 2006 dan 2018, yang diaplikasikan pada tanah tailing sisa pengelolaan tembaga dan tanah tambang di Sumatera.

Sementara itu, hasil bottom ash PLTU Jawa diterapkan pada tanah perkebunan, tanah terdegradasi, dan tanah asam.

“Sementara metode fly ash batu bara, fly ash biomass, dan campuran keduanya telah dilakukan oleh Subiksa pada tahun 2020 dan berhasil meningkatkan pH di tanah gambut,” terang Wulandari.

Namun demikian, dia mengatakan harus ada penelitian yang lebih spesifik tentang pemanfaatan FABA untuk perbaikan tekstur tanah, karena ada perbedaan kualitas FABA dan respon tanah.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here