Penderita kanker melahirkan melalui teknik pembekuan sel telur

Penderita kanker melahirkan melalui teknik pembekuan sel telur
Ilustrasi. (Photo by Luma Pimentel on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Jules, seorang bayi dari penderita kanker payudara asal Perancis yang telah menjalani kemoterapi dan mengalami kemandulan, dilaporkan menjadi bayi pertama di dunia yang lahir dari teknologi pembekuan sel telur.

Laporan Sky News yang dikutip di Jakarta, Rabu menyebutkan bahwa sebelumnya, sel telur si ibu yang tidak matang dibekukan dan ditumbuhkan di luar kandungan, kemudian dicairkan, dibuahi, dan ditanamkan bertahun-tahun kemudian.

Dokter kesuburan di Rumah Sakit Universitas Antoine Beclere, dekat Paris, mengatakan peristiwa tersebut memberikan harapan bagi para wanita yang ingin memiliki anak setelah didiagnosa menderita kanker dan mereka yang tidak dapat melakukan stimulasi ovarium karena berbahaya.

Proses

Tujuh telur yang belum matang diambil dari ibunya Jules yang berusia 29 tahun pada saat sebelum menjalai kemoterapi untuk kanker payudara.

Kemudian, dengan teknik in vitro maturation (IVM), telur yang belum matang tersebut dikembangkan lebih lanjut di laboratorium.

Setelahnya, telur dibekukan dengan vitrifikasi, yakni proses yang membekukan telur dengan sangat cepat dalam nitrogen cair guna mengurangi kemungkinan terbentuknya kristal es yang akan merusak sel.

Setelah sembuh dari kanker lima tahun kemudian, perempuan Perancis tersebut mengalami kemandulan karena terapi kimia tersebut.

Setelah memutuskan untuk menggunakan sel telur beku, satu embrio dipindahkan ke rahimnya, dan akhirnya dia melahirkan bayi laki-laki sehat pada 6 Juli 2019.

Sebelum kasus ini, tidak ada kehamilan yang berhasil dijalani oleh pasien kanker dengan sel telur yang telah menjalani IVM dan kemudian dibekukan.

Namun, beberapa anak dilahirkan sebagai hasil IVM ketika telur segera dibuahi dan dipindahkan ke pasien tanpa pembekuan.

Menurut para dokter, metode baru ini juga menghindari risiko potensial “menyuburkan kembali kanker” yang dapat terjadi pada beberapa kasus ketika jaringan ovarium ditransplantasikan kembali ke tubuh pasien kanker.

Profesor Michael Grynberg, kepala kedokteran reproduksi dan pelestarian kesuburan di rumah sakit, mengatakan sangat senang karena pasien mereka hamil tanpa kesulitan dan berhasil melahirkan bayi yang sehat pada waktunya.

“Tim saya dan saya percaya bahwa IVM dapat berhasil ketika stimulasi ovarium gagal. Keberhasilan ini merupakan terobosan di bidang pelestarian kesuburan,” kata dia.

Prof Grynberg menambahkan bahwa meskipun teknik ini tidak terlalu efisien, namun memberi para perempuan pilihan lain.

Kasus kehamilan tersebut diterbitkan dalam jurnal kanker, Annals of Oncology.

Sumber: Sky News

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here