Pemerintah tambah kapasitas 16,7 gigawatt dalam satu dekade

Pemerintah tambah kapasitas 16,7 gigawatt dalam satu dekade
Ilustrasi. Pemerintah berencana menambah 16,7 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 10 tahun sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Perusahaan Listrik Negara 2019 – 2028 dengan mengembangkan pembangkit berbasis energi bersih. (analogicus from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Pemerintah berencana menambah 16,7 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 10 tahun sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Perusahaan Listrik Negara 2019 – 2028 dengan mengembangkan pembangkit berbasis energi bersih.

“Ada beberapa tantangan pengembangan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT),” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif pada acara daring PLN International Conference on Technology and Policy in Electric Power and Energy 2020 di Jakarta pada Rabu (23/9).

Menurut Arifin, tantangan pertama adalah secara ekonomi, harga listrik dari pembangkit berbasis EBT belum kompetitif dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.

“Harga EBT masih relatif lebih mahal dibandingkan pembangkit konvensional,” tuturnya.

Tantangan kedua adalah sifat pembangkit EBT intermittent atau terputus-putus sehingga memerlukan kesiapan sistem untuk menjaga keterusan pasokan tenaga listrik.

Sebaliknya, pembangkit EBT yang least cost (ongkos rendah) dengan faktor kapasitas bagus, seperti PLT Air, PLT Minihidro, dan PLT Panas Bumi, umumnya terletak di daerah konservasi yang jauh dari pusat beban, sehingga membutuhkan waktu relatif lama dalam pembangunan, termasuk perizinan.

Kendala geografis dan keadaan kahar seperti bencana longsor, gempa, dan lainnya juga menjadi tantangan dalam pembangunan pembangkit EBT tersebut.

Mengenai bioenergi, menteri mengatakan pengembangan pembangkit biomassa dan biogas memerlukan jaminan pasokan feedstock (bahan baku) selama masa operasi.

Dia meyakini Indonesia sebagai negara tropis sangat cocok dan punya potensi besar dalam mengembangkan EBT, terutama dari energi matahari yang durasi penyiaran di tanah air lebih panjang dari pada wilayah lain di bumi.

“Sangat bisa (mengandalkan energi surya), karena Indonesia negara tropis. Penyinaran matahari lebih panjang dari negara lain,” jelas Arifin.

Arifin tak menampik bahwa porsi batu bara dalam pemenuhan kebutuhan bauran pembangkit listrik masih tinggi.

“Realisasi bauran energi untuk tenaga listrik hingga Juni 2020 masih didominasi oleh batu bara,” katanya.

Meski demikian, bauran pembangkit EBT terus mengalami peningkatan bahkan melebihi target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020.

Peningkatan signifikan ditunjukkan oleh bauran dari pembangkit berbasis tenaga air dan panas bumi.

Pembangkit panas bumi telah menghasilkan 2.131 gigawatt-hour (GWh) atau 5,84 persen dari target 14,77 GWh.

Sementara pembangkit tenaga air mencapai 6.857 GWh dari target 18,63 GWh.

Pembangkit EBT lainnya mencapai 3,24 GWh, melebihi dari target 1,01 GWh.

Adapun serapan bauran pembangkit gas mencapai 175.119 British Billion Thermal Unit (BBTU), sedangkan serapan bauran pembangkit Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Nabati (BBN) masing-masing mencapai 0,86 juta kilo liter dan 0,29 juta kilo liter.

“Total realisasi produksi listrik sebesar 133.216 GWh,” kata Menteri ESDM.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here