Pegunungan Saudi bagian utara diperkirakan berumur 37 juta tahun

Pegunungan Saudi utara diperkirakan berumur 37 juta tahun
Fosil coccolith digunakan dalam penelitian untuk menentukan usia geologi dari tebing gunung yang tersusun dari batu kapur lunak di bagian utara Arab Saudi. (Saudi Gazette)

Jakarta (Indonesia Window) – Para peneliti geologi dari College of Marine Sciences di King Abdulaziz University (KAU) dan Departemen Fosil di Lembaga Survei Geologi (Saudi Geological Survey) melakukan penelitian untuk menentukan usia geologi dari tebing gunung yang tersusun dari batu kapur lunak di bagian utara Arab Saudi.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa gunung-gunung tersebut diperkirakan berumur sekitar 37 juta tahun, menurut laporan Saudi Gazette yang dikutip di Jakarta, Selasa.

Fosil coccolith berkapur digunakan dalam penelitian tersebut, yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Hamdi Al-Jahdali dari Departemen Geologi Kelautan di KAU College of Marine Sciences.

Coccoliths adalah cangkang kalsium karbonat yang dibentuk oleh coccolithophores.

Fosil coccolith adalah stalaktit kecil dari sel alga bersel tunggal.

Setelah mati dan hancur, mereka menyebarkan residu stalaktitnya, yang berukuran berkisar antara 3-30 mikrometer (1 milimeter=1.000 mikrometer).

Al-Jahdali merupakan orang Saudi pertama yang berpartisipasi dalam misi eksplorasi global dua kali berturut-turut di kapal penelitian Joides Resolution di Pasifik dan Karibia saat mengambil gelar master dan doktoral di State University Florida, Amerika Serikat.

Universitas tersebut telah menerbitkan penelitiannya tentang pegunungan utara Arab Saudi melalui fosil laut mikro-collette.

Al-Jahdali mengungkapkan bahwa pegunungan tersebut merupakan sedimen semi-dalam yang berumur 37 juta tahun, dan organisme tersebut muncul dalam catatan geologi sekitar 200 juta tahun yang lalu.

Fosil adalah alat penting dalam menentukan usia geologi batuan sedimen batugamping dalam studi geologi, mengingat konsentrasi dan kepadatannya dalam sistem geologi laut.

Sebagian besar Arab Saudi bagian utara dan negara-negara tetangga ditutupi lingkungan laut semi-dalam pada akhir periode Eosen, yaitu sekitar 37 juta tahun yang lalu, ketika mikro-coccolith mengapung di permukaan air, sebelum kematiannya, lalu jatuh ke dasar laut berupa hujan batu kapur di laut yang membentuk batuan batugamping, selain fosil coccolith.

Fosil laut berukuran besar seperti bulu babi juga terdapat di wilayah penelitian.

Penelitian Al-Jahdali tentang pegunungan bagian utara Arab Saudi tersebut diterbitkan dalam Journal of Applied Ecology and Environmental Research pada edisi Agustus 2020.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here