
Tim peneliti China temukan spesies mikroba baru di stasiun luar angkasa

Gambar simulasi yang diabadikan di Pusat Kendali Antariksa Beijing (Beijing Aerospace Control Center/BACC) pada 30 Oktober 2024 ini menunjukkan pesawat luar angkasa berawak Shenzhou-19 melakukan penambatan (docking) di porta depan modul inti stasiun luar angkasa Tianhe. (Xinhua/Han Qiyang)
Niallia tiangongensis menunjukkan ketahanan yang luar biasa terhadap stres, menjaga keseimbangan redoks seluler dan memastikan pertumbuhan yang kuat dalam kondisi ekstrem dengan mengatur biosintesis bacillithiol (BSH) untuk menangkal stres oksidatif yang diinduksi luar angkasa.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia) – Tim peneliti mengumumkan penemuan spesies mikroba baru di stasiun luar angkasa China untuk pertama kalinya, dan menamainya Niallia tiangongensis, seperti diungkapkan Badan Antariksa Berawak China (China Manned Space Agency/CMSA).Sebagai salah satu bentuk kehidupan yang paling kuno dan beragam di Bumi, mikroorganisme sangat kecil namun ada di mana-mana. Spesies yang baru ditemukan ini mewakili mikroba yang sebelumnya tidak dikenal dan belum pernah didokumentasikan atau dipelajari oleh para ilmuwan.Lingkungan unik stasiun luar angkasa, yang ditandai dengan mikrogravitasi, radiasi, keterisolasian, dan keterbatasan nutrisi, telah lama membuat para peneliti terpesona karena potensinya menyimpan spesies mikroba yang tidak diketahui.Pada Mei 2023, kru Shenzhou-15 mengumpulkan sampel mikroba permukaan dengan menggunakan tisu steril, mengawetkannya pada suhu rendah di orbit. Analisis lapangan selanjutnya mengungkapkan spesies baru Niallia tiangongensis, yang dikonfirmasi melalui metode multidisiplin termasuk analisis morfologi, pengurutan genom, studi filogenetik, dan profil metabolik, kata CMSA.Mikroorganisme menggunakan mekanisme biologis yang unik untuk beradaptasi dengan tekanan lingkungan luar angkasa, yang pada akhirnya membentuk karakteristik metabolisme dan fisiologis mereka.Niallia tiangongensis menunjukkan ketahanan yang luar biasa terhadap stres, menjaga keseimbangan redoks seluler dan memastikan pertumbuhan yang kuat dalam kondisi ekstrem dengan mengatur biosintesis bacillithiol (BSH) untuk menangkal stres oksidatif yang diinduksi luar angkasa, menurut CMSA.Mikroba tersebut memiliki kemampuan yang khas dalam pembentukan biofilm dan perbaikan kerusakan akibat radiasi, membuatnya sangat mudah beradaptasi "secara menyeluruh" untuk lingkungan luar angkasa.Penemuan ini memberikan wawasan ilmiah baru, yakni mekanisme adaptasi spesies baru ini dapat menginformasikan strategi pengendalian mikroba yang ditargetkan dengan penerapan di bidang kedirgantaraan, pertanian, industri, dan perawatan kesehatan. Selain itu, kemampuannya untuk memanfaatkan senyawa organik menunjukkan jalan yang menjanjikan bagi penggunaan sumber daya berkelanjutan.Seiring dengan berlanjutnya operasi jangka panjang stasiun luar angkasa China, para peneliti memperkirakan adanya kemajuan yang signifikan dalam mempelajari senyawa bioaktif mikroba, sumber daya genetik, dan fungsi metabolisme, yang berpotensi menghasilkan manfaat besar bagi penerapan ilmiah dan praktis di Bumi.Temuan ilmiah terkait telah dipublikasikan secara daring di International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Bibit kentang yang terpapar luar angkasa masuki tahap penanaman eksperimental di China utara
Indonesia
•
16 Jan 2024

Pesawat jet C919 China mulai proses penerbangan validasi
Indonesia
•
26 Dec 2022

Tim peneliti China identifikasi terapi bakteri yang berpotensi efektif cegah dan obati kanker usus besar
Indonesia
•
12 Sep 2024


Berita Terbaru

Saat manusia mulai ‘jatuh hati’ pada AI, China perketat aturan bot pendamping
Indonesia
•
16 Jul 2026

Otot yang lemah bisa tingkatkan risiko diabetes hingga 3,5 kali lipat
Indonesia
•
16 Jul 2026

Anjing laut punya ‘kekuatan super’ mendengar di darat dan bawah air
Indonesia
•
16 Jul 2026

Perangkat bionik ini bikin otak tak sekadar mendengar, tapi juga memahami suara
Indonesia
•
15 Jul 2026
