Muslim memiliki kepuasan hidup melebihi Kristen-Budha karena Tauhid

Muslim memiliki kepuasan hidup melebihi Kristen-Budha karena Tauhid
Umat Islam dari seluruh dunia melaksanakan ritual thawaf (mengeliling Ka’bah sebanyak tujuh kali) di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi saat menunaikan ibadah umrah pada Juli 2018. (Indonesia Window/Libertina)

Jakarta (Indonesia Window) – Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan dan menekankan konsep Tauhid atau monoteisme yakni hanya meyakini satu Tuhan yang layak disembah.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keyakinan akan “keesaan” ini mempengaruhi tingkat kepuasan akan hidup, di mana Muslim memiliki nilai paling tinggi di antara pemeluk agama atau kepercayaan lainnya.

Penelitian oleh Laura Marie Edinger-Schons, PhD dari Universitas Mannheim yang dipublikasikan di jurnal Psychology of Religion and Spirituality tersebut menekankan bahwa kepuasan Muslim dengan kehidupan mereka adalah karena ada rasa ‘keesaan’ atau keterhubungan, dan perasaan ini jauh lebih kuat dibandingkan pemeluk agama lainnya.

Mengutip Sciencedaily, Edinger-Schons melakukan dua survei yang melibatkan hampir 75.000 orang di Jerman.

Survei pertama diikuti oleh lebih dari 7.000 peserta yang direkrut sebagai bagian dari proyek kerja sama antara universitas dan perusahaan. Mereka diminta untuk menanggapi serangkaian pernyataan yang dirancang guna mengukur kepercayaan mereka pada keesaan. Misalnya, “Saya percaya bahwa segala sesuatu di dunia didasarkan pada prinsip umum” atau “Segala sesuatu di dunia ini saling bergantung dan dipengaruhi satu sama lain”.

Mereka juga diminta untuk menanggapi pertanyaan yang mengukur konsep lain terkait dengan keesaan, seperti hubungan sosial, hubungan dengan alam, rasa empati serta kepuasan hidup.

Edinger-Schons menemukan korelasi yang signifikan antara skor pada skala kesatuan dan konsep-konsep yang terkait dengan keesaan. Hal itu menunjukkan bahwa kesatuan adalah ukuran yang valid dari konsep tersebut. Lebih penting lagi, dia juga menemukan bahwa orang-orang dengan skor keesaan yang lebih tinggi menunjukkan kepuasan hidup yang jauh lebih besar.

Untuk menentukan apakah skor keesaan adalah variabel yang tetap sepanjang waktu atau tetap, survei yang sama dilakukan atas kelompok orang yang sama enam pekan kemudian. Dengan respon dari lebih dari 3.000 dari mereka, Edinger-Schons masih menemukan bahwa kepercayaan pada keesaan tidak berubah secara signifikan dan karenanya sangat mungkin stabil dari waktu ke waktu.

“Jelas, keyakinan keesaanlebih dari sekadar perasaan atau suasana hati yang spesifik,” katanya. “Mereka tampaknya mewakili sikap umum terhadap kehidupan.”

Menurut Edinger-Schons, orang dengan kepuasan hidup yang lebih tinggi mendapatkan beberapa manfaat tambahan, seperti peningkatan kinerja akademik pada orang yang lebih muda dan kesehatan yang lebih baik di usia tua.

Pada survei ke dua, yang melibatkan lebih dari 67.000 orang, Edinger-Schons melihat apakah keyakinan akan keesaan dapat menjelaskan kepuasan hidup individu melebihi dan di atas pengaruh agama.

“Saya menyadari bahwa dalam berbagai teks filosofis dan keagamaan, gagasan sentral adalah gagasan keesaan,” kata Edinger-Schons.

“Di waktu senggang, saya menikmati berselancar, Capoeira, meditasi dan yoga, dan semua ini dikatakan mengarah pada pengalaman yang dapat digambarkan sebagai menyatu dengan kehidupan atau alam, atau hanya mengalami keadaan yang tenggelam dalam aktivitas itu. Saya bertanya-tanya apakah kepercayaan yang lebih besar pada keesaan adalah sesuatu yang independen dari keyakinan agama dan bagaimana hal itu memengaruhi kepuasan terhadap kehidupan. ”

Peserta survei itu berasal dari berbagai latar belakang agama, termasuk denominasi Protestan, Katolik, Yahudi, Islam, Hindu dan Budha. Sementara itu, lebih dari seperempat dari mereka yang mengidentifikasi kepercayaan mereka mengatakan bahwa mereka adalah ateis.

Di antara semua kelompok tersebut, Muslim kemungkinan besar percaya bahwa mereka terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari pada diri mereka sendiri.

Berada di urutan ke dua, orang-orang Kristen yang menganggap diri mereka bukan Katolik atau Protestan menunjukkan kepercayaan akan keesaan dengan nilai rata-rata, diikuti oleh umat Buddha dan Hindu.

Sementara itu, ateis merasa paling tidak terhubung dengan orang lain atau kekuatan yang lebih tinggi.

“Saya tidak merasa heran bahwa ateis memiliki tingkat kepercayaan keesaan yang paling rendah dalam sampel, namun yang mengejutkan saya adalah bahwa keyakinan akan keesaan sebenarnya sangat berbeda di berbagai afiliasi agama, di mana Muslim memiliki level tertinggi,” katanya.

Syafii Antonio serukan kemandirian ekonomi Islam dalam khutbah Ied
Sholat Ied 1440 Hijriyah di kawasan Sentul City, Bogor digelar di Jalan MH. Thamrin sepanjang kurang lebih 300 meter pada Rabu (5/6/2019). Sedikitnya 10.000 orang mengikuti kegiatan tersebut. (Indonesia Window/Libertina)

Model matematika yang dirancang oleh para peneliti menegaskan hubungan yang kuat antara keesaan dan kepuasan hidup.

Menurut Edinger-Schons, hasil penelitian menunjukkan dengan jelas bahwa arah sebab-akibat dari hubungan antara keyakinan akan keesaan dan kepuasan hidup adalah sejalan dengan asumsi yang berasal dari literatur, yakni “keyakinan akan keesaan adalah penentu yang signifikan dari kepuasan hidup dari waktu ke waktu, sedangkan tidak ada efek terbalik dari kepuasan hidup pada keyakinan akan keesaan”.

“Akan sangat menarik untuk menguji apakah perbedaan individu dalam keyakinan keesaan meramalkan perbedaan dalam adaptasi nyata, misalnya, mengatasi peristiwa kehidupan yang penuh tekanan,” kata dia.

Dia menambahkan bahwa tujuan Buddhisme adalah Nirwana – yang pada kenyataannya dicapai dengan menghilangkan penderitaan, yang dianggap berakar pada keinginan untuk kemelekatan.

“Keyakinan inti agama Hindu adalah kebenaran. Tetapi satu-satunya prinsip terpenting dalam Islam adalah prinsip ‘Tauhid,’ yakni kepercayaan pada ‘konsep keesaan monoteisme yang tak kasatmata,’ atau tentang satu tuhan pemersatu. Jadi, mungkin tidak mengherankan bahwa Muslim merasakan rasa keesaan yang terbesar,” jelas Edinger-Schons.

“Sulit untuk mengukur bagaimana rasa spiritual ‘keesaan’ dan koneksi mengubah otak dan tubuh kita, tetapi kita tahu bahwa koneksi sosial yang kuat mendorong semuanya dari umur panjang ke sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, empati yang lebih besar dan lebih sedikit kecemasan dan depresi,” lanjutnya.

Banyak orang saat ini berlatih yoga, meditasi, olahraga aksi, dan kegiatan lain yang bertujuan mencapai kondisi keesaan. Memperkuat kepercayaan yang lebih umum tentang keesaan segala sesuatu memiliki potensi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan bahkan mungkin lebih efektif dari pada kepercayaan dan praktik keagamaan tradisional dalam meningkatkan kepuasan hidup, kata Edinger-Schons.

Karena semua peserta survei berasal dari Jerman, ia mencatat bahwa tidak jelas apakah efek ini akan sama dengan penduduk negara lain sehingga dia menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here