Moderna tolak permintaan China untuk ungkapkan teknologi vaksin COVID-19

Ilustrasi. Vaksin COVID-19 Moderna. (Mufid Majnun from Pixabay)

Teknologi vaksin COVID-19 Moderna menjadi prasyarat dari China agar perusahaan farmasi yang berbasis di Cambridge, Massachusetts itu bisa menjual produknya di negara Asia Timur tersebut.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Moderna Inc. telah menolak permintaan China untuk menyerahkan kekayaan intelektual inti di balik pengembangan vaksin COVID-19 milik perusahaan Amerika Serikat ini, yang menyebabkan gagalnya negosiasi penjualannya, Financial Times melaporkan pada Sabtu (1/10), mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Perusahaan farmasi yang berbasis di Cambridge, Massachusetts itu menolak permintaan China untuk menyerahkan resep vaksin mRNA-nya karena masalah komersial dan keamanan, kata surat kabar itu, mengutip orang-orang yang terlibat dalam negosiasi yang berlangsung antara 2020 dan 2021, seraya menambahkan bahwa pembuat vaksin masih “bersemangat” untuk menjual produknya ke China.

Perusahaan telah “menyerah” pada upaya sebelumnya untuk mengakses pasar China karena permintaan China untuk menyerahkan teknologi sebagai prasyarat untuk menjual di negara itu, kata laporan itu.

Moderna tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

China belum menyetujui vaksin COVID-19 asing dan masih mengandalkan beberapa suntikan yang dikembangkan di dalam negeri.

Pada bulan September, Chief Medical Officer Moderna, Paul Burton, mengatakan perusahaan itu ingin berkolaborasi dengan China dalam memasok vaksin COVID-19 berbasis mRNA ke negara tersebut.

“Kami tentu akan sangat ingin bekerja sama dengan China jika mereka merasa ada kebutuhan akan vaksin di sana,” kata Burton dalam jumpa pers untuk wartawan di Asia. “Saat ini, tidak ada aktivitas yang terjadi, tetapi kami akan sangat terbuka untuk itu.”

Booster

Pada 31 Agustus lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA) Amerika serikat menyetujui suntikan penguat (booster) vaksin COVID-19 yang diperbarui buatan Moderna dan Pfizer-BioNTech yang menargetkan subvarian Omicron.

Suntikan booster yang diperbarui tersebut mengandung dua komponen mRNA dari virus SARS-CoV-2, yakni satu komponen dari galur pertama SARS-CoV-2 dan satu komponen lainnya merupakan komponen yang umum ditemukan di antara subvarian BA.4 dan BA.5 dari varian Omicron SARS-CoV-2, menurut FDA.

Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sekarang ini menjadi penyebab mayoritas kasus COVID-19 di AS, dan diperkirakan akan menyebar pada musim gugur dan musim dingin tahun ini, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS.

Suntikan booster Moderna yang diperbarui mendapat izin penggunaan sebagai dosis booster tunggal pada individu berusia 18 tahun ke atas. Sementara itu, dosis booster Pfizer-BioNTech disetujui untuk digunakan sebagai dosis booster tunggal pada individu berusia 12 tahun ke atas, menurut FDA.

Sumber: Reuters; Xinhua

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan