Menjaga pohon keimanan tetap kokoh

Menjaga pohon keimanan tetap kokoh
Ilustrasi. (Photo by Jan Huber on Unsplash)

Hari menjelang gelap. Aku, suami dan anak-anak berjalan pulang setelah seharian keluar.

Kebetulan di depan Stasiun Stratford, London ada ATM. Suamiku ingin cek transaksi. Aku pun tunggu tak jauh darinya.

Saat menunggu tiba-tiba seorang wanita tinggi berusia 30-an dengan busana rapi dan wangi mendekatiku.

“Hi, do you have a minute?”. Wanita itu bertanya apakah aku punya waktu sebentar untuk ngobrol.

“Sorry, I am actually rushing to go home. I am just waiting for my husband. There he is. Sorry I have to go,” jawabku sambil tergesa gesa.

“Oh, never mind. Have a Good evening.” Wanita itu paham. Dia melambaikan tangannya yang menggenggam tumpukan brosur.

Aku punya feeling mereka adalah “da’I” alias pendakwah dari penganut Kristen Jehovah Witness (JW) atau Saksi Yehovah.

Bukannya aku menghindari mereka, tapi kami memang harus mengejar waktu maghrib.

Dari pengamatanku, penganut dan penyebar JW masih aktif mengajak (baca: mendakwahi) orang-orang untuk percaya kepada ajaran agama Kristen.

Sebenarnya ini bukan pertama kali aku bertemu mereka. Pintu rumah kami sering diketuk oleh para pendakwah ini dan beberapa kali aku sempatkan untuk mengobrol dan mendengar langsung tenyang misi yang sebenarnya mereka bawa.

Jika sudah berbincang dengan mereka, yang sering terjadi justru mereka lebih menyetujui apa yang aku sampaikan.

Mungkin mereka berusaha menemukan titik temu antara kami supaya obrolan terdengar enak dan tidak menghakimi atau menggurui.

Satu hal yang patut diacungi jempol dari mereka adalah dedikasi dalam menyebarkan kepercayaannya.

Hujan badai mereka lalui. Kalau perlu bawa mantel dan payung. Pagi dan malam mereka jalani. Mengetuk pintu rumah satu ke rumah yang lain.

Seperti malam itu, gerimis dan angin kencang tampak tak jadi masalah bagi si wanita tadi yang sudah lama berdiri di pintu keluar stasiun bawah tanah Stratford bersama dengan temannya.

Usai disamperin perempuan tadi, anakku yang pertama, Nusaybah lantas bertanya siapa mereka. “Who were they, Mama?”

Ketika aku jawab bahwa mereka adalah penyebar agama Kristen. Dia balik bertanya, “Apakah mereka berusaha membuatmu pindah ke agama Kristen? Bagaimana kalau nanti jika aku sudah besar, ada orang berusaha meyakinkanku untuk memeluk agama lain?”

Tentu saja si emak memulai obrolan ini dengan senang hati.

“Well…, mereka yakin akan ajaran yang mereka anut. Wajar kalau mereka ingin menyebarkannya. Kita yakin dengan kebenaran Islam, kita pun berkewajiban menyebarkannya. Orang kristen atau Hindu juga percaya agama merekalah yang paling benar.”

“So how do we know Islam is the truth and the correct one, Mama?”. Nusaybah bertanya, jadi bagaimana kita tahu bahwa Islam adalah agama yang benar.

Aha! Pertanyaan klasik yang jauh-jauh hari sudah aku prediksi bakal ditanyakan sama anakku.

Kebetulan pula pekan-pekan ini, di sekolah anakku ada inter faith week atau pekan antaragama.

Jadi, anak-anak dari sekolah lain dan beragama non-Islam datang dan mengenalkan agama mereka.

Tujuannya adalah membuka cakrawala para siswa sekaligus menunjukkan bahwa meski agama mereka berbeda, tetap bisa saling menghargai.

Maka tak heran Nusaybah yang kini sudah berusia 10 tahun tertarik dengan falsafah tentang berbagai agama.

Pertanyaan yang sering dia ajukan kini selalu berkisar tentang akidah.

Aku melihat inilah tantangan baru menjadi orangtua karena anak-anak sekarang dipapar dengan berbagai macam ide saat mereka masih sangat belia.

Memang sih ada sisi positifnya, namun ada juga efek negatifnya. Satu sisi, mereka menjadi kritis, melek dan bisa menghasilkan keyakinan yang kuat. Tapi, kalau orangtua nggak siap dengan jawaban yang memadai, bisa-bisa malah menimbulkan keraguan dalam hati mereka tentang kebenaran Islam.

Sistem pendidikan di Inggris mengajari para murid untuk menjadi free thinker atau pemikir yang bebas.

Ungkapan semacam make sure you question everything (artinya kamu adalah orang pintar dan cerdas, maka bertanyalah tentang apa pun), don’t just accept hearsay (jangan percaya gossip), do your research (teliti dahulu tentang berbagai hal), think for yourself (berpikirlah), seeing is believing (melihat bukti menguatkan keyakinan) adalah mantra yang aku anggap double-edged sword atau bagaikan pisau bermata dua.

Kenapa? Karena bisa menguntungkan tapi juga bisa menyakitkan.

Islam

Berpikir, harus! Al Quran bahkan berulang kali mengajak kita berpikir dengan pertanyaan-pertanyaan yang memikat perhatian seperti:

“Kenapa mereka tidak berfikir?”
“Kenapa mereka tiada mengetahui?”
“Kenapa mereka tiada mempergunakan akal.”

Tapi di sisi yang lain akal manusia memiliki keterbatasan.

Tidak semua pertanyaan mampu dijawab oleh akal. Tidak semua pertanyaan layak dan perlu dijawab.

Sayangnya ada orang cerdas yang mengira bahwa apa pun yang tidak dapat dijangkau atau dijawab oleh akal maka hal tersebut tidak ada, tidak bisa di percaya dan tidak perlu diperhatikan.

Pertanyaan semacam: “Allah kan Maha Mendengar, lalu bagaimana cara Dia mendengar? Melihat?” Yang demikian adalah pertanyaan yang tidak akan bisa dijawab dan kalaulah bisa dijawab, toh tidak akan berdampak apa pun.

Berbeda dengan pertanyaan: “Apa tujuan Allah ﷻ menciptakan manusia? Kenapa manusia diberi pilihan dalam hidup? Mana yang masuk dalam lingkup pilihan? Kenapa ada perang jika Allah ﷻ Maha Pengasih? Kenapa ada wabah kelaparan?

Pertanyaan seperti itu bisa dijawab dan akan memberi efek pada menguatnya aqidah.

Nah, sebagai orangtua, sudahkah hal-hal seperti ini kita pelajari? Bagaimana kita bisa membuktikan kepada anak-anak kita secara obyektif akan kebenaran sebuah agama?

Apa yang sudah kita suguhkan ke benak mereka jika mereka bertanya tentang konsep dasar keimanan? Bagaimana membuktikan kebenaran Al-Quran? Apakah benar Rasulullah Muhammad ﷺ utusan Tuhan? Kenapa ada surga dan neraka? Dan lain sebagainya.

Menurutku, belajar dan terus belajar adalah kunci jawabannya.

Mencari ilmu Islam untuk menguatkan Iman. Bukan sekadar memenangkan pertarungan ide. Apalagi hanya untuk menjadi ajang pemuasan akal (intellectual entertainment).

Iman

Ibaratkan keimanan kita sebagai sebuah pohon. Jika akarnya kuat maka pohon itu juga bakal kokoh, meski badai topan menghantam.

Jika pohon itu berdiri tegak menjulang, maka tak jarang daun dan rantingnya menjadi pengayom bagi orang-orang di sekitarnya, sedangkan buahnya bermanfaat untuk banyak makhluk Allah ﷻ.

Agar pohon itu tumbuh sehat dan kuat, serta menghasilkan buah yang manis, harus ada pemupukan, pengairan, dan upaya menjaga, memangkas cabang dan ranting yang tidak bermanfaat.

Proses ini tidak bisa dilakukan dalam waktu sesaat, sekali, dua kali. Namun perlu waktu berhari-hari yang terus menerus dimulai dari pohon itu masih kecil hingga akhir hayat.

Tentang iman, pupuk itu adalah ilmu tentang Islam yang diterapkan, yang membantu kita merenungi makna kehidupan dan terus berjuang memperbaiki diri.

Kalaulah kita menjadi pendakwah, itu karena Allah ﷻ yang memerintahkannya. Bukankah ilmu lebih berarti jika kita bagi.

London, Kamis 14 November 2019

Penulis: Yumna Umm Nusaybah (Ibu tiga anak, tinggal di London, anggota kelompok penulis Revowriter London)

1 Komentar

  1. Kajian yang santai tapi dalam makna..
    Cuman jawaban dari pertanyaan Nusaibah kayaknya tidak terlalu banyak diulas….

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here