Mengamankan perbatasan Indonesia dengan teknologi informasi

Mengamankan perbatasan Indonesia dengan teknologi informasi
Seminar virtual bertema “Sinergitas Pengamanan Wilayah Perbatasan Berbasis Teknologi Informasi” digelar oleh Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) di Bandung, Jawa Barat pada 14-15 April 2020. (Seskoau)

Jakarta (Indonesia Window) – Menjadi negara kepulauan terbesar di dunia membuat tugas mengamankan perbatasan Indonesia semakin menantang, apalagi di masa pandemik COVID-19.

Guna memperluas wawasan Perwira Siswa (pasis) TNI mengenai pengamanan wilayah perbatasan dengan teknologi informasi, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) menggelar seminar virtual bertema “Sinergitas Pengamanan Wilayah Perbatasan Berbasis Teknologi Informasi” di Bandung, pada 14-15 April 2020.

Seminar internasional tersebut diikuti oleh perwakilan sejumlah perguruan tinggi, Pasis Seskoau dan Sesau, lembaga penelitian dan beberapa atase pertahanan/militer negara asing di Indonesia.

Komandan Seskoau Marsekal Muda TNI Henri Alfiandi, mengatakan seminar internasional itu dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi informasi agar tetap dapat menajalankan protokol kesehatan penanganan Covid-19.

Henri berharap para peserta dapat belajar bagaimana mengelola dan mengamankan wilayah perbatasan negara dengan memanfaatkan teknologi informasi dan pesawat tanpa awak yang kini telah diproduksi oleh generasi muda Indonesia.

Dalam seminar tersebut para peserta juga belajar bagaimana membangun dan menjalin sinergitas antara anggota Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan lembaga lainnya.

Mekanisme koordinasi dan sistem komunikasi, sistem patroli pengamanan maritim dan sistem penegakan hukum, serta piranti lunak dan tata kelola pengamanan perbatasan wilayah nasional juga merupakan diantara materi seminar internasional tersebut.

Henri menekankan bahwa fenomena lain yang juga harus diwaspadai adalah kejahatan transnasional yang memanfaatkan kelemahan pengamanan dan pegawasan perbatasan.

“Kondisi riil sekarang ini adalah kita masih perlu meningkatkan sinergitas. Karenanya, dengan menyatupadukan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki dan didukung teknologi informasi dan komunikasi serta pesawat tanpa awak, kita optimistis bisa mengamankan dan menyelamatkan kekayaan sumber daya alam kita yang sangat luar biasa,” katanya.

Sementara itu salah satu perumus naskah seminar, Mayor Lek Rozikin, mengatakan wawasan dan rasa tanggung jawab Perwira TNI Angkatan Udara harus diasah dan diperkuat dalam pengabdian kepada negara dengan berpegang pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

“Prajurit Angkatan Udara harus memiliki jiwa militan, inovatif dan profesional. Salah satu contohnya adalah merebaknya wabah virus corona tidak menyurutkan semangat para perwira siswa berinovasi sehingga seminar internasional yang telah direncakan tetap terselenggara meskipun harus menerapkan social distancing dengan memanfaatkan kemajuan teknologi,” tuturnya.

Seminar internasional yang diselenggarakan oleh Pasis Seskoau A-57 dan Sesau A-13 itu menghadirkan narasumber antara lain Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Yuyu Sutisna; Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D dari Universitas Chiba Jepang; mantan wamenlu Dr. Dinno Patti Djalal;  mantan KASAU Marsekal TNI (Pur) Chappy Hakim; Kepala BSSN  Letjend (Purn) Hinsa Siburian; Asops Panglima TNI Mayjend TNI Arios Tiopan Aritonang S.IP; Prof Dr. Abdul Rahim Anuar dari UUM Malaysia; serta peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr. Harry Septanto.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here