Menabung waktu, menuai kebaikan

Menabung waktu, menuai kebaikan
Ilustrasi. (Photo by Jake Thacker on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Negara maju bukan berarti tak lepas dari masalah sosial, terutama karena masyarakat yang individualistik dan biaya pemenuhan kebutuhan dasar yang cukup mahal.

Di Swiss – yang mendapat skor 68 untuk indeks individualistik menurut dimensi budaya Hofstede, merupakan masyarakat yang individual. Nilai tersebut menunjukkan kehidupan sosial yang menuntut setiap individu mengurus diri mereka sendiri dan keluarga dekat mereka saja.

Walhasil warga Swiss harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari tua saat mereka tidak lagi bisa bekerja, jauh dari para kolega dan mungkin tidak memiliki keluarga yang dapat mengurus mereka.

Seorang mahasiswa China yang sedang belajar di Swiss menceritakan pengalamannya tentang bagaimana masyarakat Swiss memecahkan masalah sosial tentang jaminan hari tua di negara Eropa Tengah tersebut.

“Saya menyewa sebuah rumah di dekat kampus selama saya tinggal di Swiss. Christina, induk semang saya, adalah seorang wanita berusia 67 yang bekerja sebagai guru di sebuah sekolah sebelum ia pensiun.

Sistem perencanaan pensiun Swiss membuatnya tak perlu khawatir di tahun-tahun berikutnya.

Namun, saya terkejut mengetahui bahwa dia memiliki “pekerjaan” dengan mengurus seorang manula berusia 87 tahun yang tinggal sendirian.

Dalam hati saya bertanya apakah dia melakukan ini untuk uang.

Jawabannya mengejutkan saya: “Saya tidak melakukan ini untuk uang, saya melakukan ini untuk mendapatkan waktu saya di bank waktu (time bank). Ketika saya semakin tua dan kesulitan mengurus diri sendiri, saya dapat menarik ‘simpanan’ saya dan menggunakannya. ”

Ketika saya pertama kali mendengar tentang konsep bank waktu, saya sangat ingin tahu dan bertanya kepada Christina tentang hal itu.

Aslinya “Time Bank” merupakan proyek pensiun yang dikembangkan oleh Kementerian Asuransi Sosial Federal Swiss.

“Nasabah” mulai “menyimpan” waktu dengan merawat para manula ketika mereka masih muda, dan kemudian menggunakannya ketika mereka beranjak tua, sakit, atau membutuhkan seseorang untuk merawat mereka.

Semua pelamar nasabah harus sehat, komunikatif dan baik serta memungkinkan untuk meluangkan waktu guna merawat para lansia yang membutuhkan bantuan. Jam pelayanan mereka akan disimpan dalam akun pribadi sistem jaminan sosial.

Christina merawat Lisa yang tinggal sendirian dan membutuhkan perawatan dua kali sepekan.

Pensiunan guru itu akan menghabiskan dua jam setiap kali kunjungannya ke Lisa untuk membantu beberapa tugas, membersihkan rumah, mengajaknya jalan-jalan, dan mengobrol dengannya.

Menurut perjanjian, setelah satu tahun masa kerja Christina, bank waktu akan menghitung jam kerjanya dan mengirimkannya “kartu bank waktu”.

Ketika dia membutuhkan seseorang untuk menjaganya, dia dapat menarik waktu yang telah dia tabung di bank waktu.

Setelah semua data diverifikasi, bank waktu akan menugaskan relawan ke rumah sakit atau ke rumahnya untuk memberikan pelayanan.

Suatu ketika saya mendapat telepon dari Christina yang mengabarkan dia jatuh ketika sedang membersihkan jendela.

Saya bergegas pulang dan mengantarnya ke rumah sakit.

Dokter mengatakan pergelangan kaki Christina retak dan dia perlu beristirahat total.

Ketika saya mengajukan cuti untuk merawatnya, dia mengatakan kepada saya tidak perlu khawatir tentang dirinya karena dia sudah mengajukan aplikasi untuk menarik waktunya dari bank.

Dalam dua jam, bank waktu mengirim relawan untuk merawatnya.”

Bank Waktu

Saat ini, “Bank Waktu” telah menjadi praktik umum di Swiss.

Sistem ini tidak hanya menghemat biaya pensiun tetapi juga memecahkan beberapa masalah sosial lainnya.

Banyak orang Swiss sangat mendukung jenis perawatan manula tersebut.

Menurut survei lembaga pensiun Swiss, lebih dari separuh kalangan muda Swiss ingin berpartisipasi dalam program tersebut.

Pemerintah Swiss juga mendukung sistem pensiun “bank waktu” ini dalam bentuk undang-undang.

Bank Waktu memang menyediakan kepastian jaminan sosial bagi para manula, khususnya di Swiss yang telah lama menerapkannya.

Namun bank waktu tak sepenuhnya menyelesaikan masalah sosial karena setiap orang yang ingin mendapatkan kebaikan di hari tua harus “membeli”-nya sedari dini. Bagaimana jika mereka tidak mampu, bahkan untuk menabung waktu karena banyak sebab yang tak terhindarkan, seperti cacat fisik atau mental?

Jauh sebelum bank waktu diterapkan oleh Swiss, Islam punya mekanisme jaminan hari tua yang berasal dari perintah Allah ﷻ dalam Surat An-Nisaa ayat 36 yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak … ”.

Di Surat Luqmân ayat 14 Allah ﷻ berfirman yang artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah; dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu”.

Sementara itu Nabi Muhammad ﷺ menjadikan bakti kepada orangtua lebih diutamakan dari pada berjihad di jalan Allah. Dalam hadist dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd, dia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi; ‘Amalan apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah’.”

Dalam Islam para orangtua tak perlu risau akan hari senja mereka atau repot-repot “menabung waktu” dengan mengurus orang lain demi mendapatkan perhatian dan pelayanan di masa tua sebab ada anak-anak sholih yang siap mengurus segala kebutuhan mereka.

Jaminan hari tua dari Al-Quran dan Sunnah adalah “Bank Waktu” yang sesungguhnya.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here