LIPI gunakan aplikasi MONMANG pantau mangrove

LIPI gunakan aplikasi MONMANG pantau mangrove
Hutan mangrove. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggunakan aplikasi berbasis Android, MONMANG, dalam memantau ekosistem mangrove (bakau) di tanah air. (Image by hbieser from Pixabay)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggunakan aplikasi berbasis Android, MONMANG, dalam memantau ekosistem mangrove (bakau) di tanah air.

Bekerja sama dengan program rehabilitasi terumbu karang COREMAP-CTI, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI telah melakukan pemantauan hutan bakau di lebih dari 40 lokasi di Indonesia, menurut pernyataan yang dikutip dari situs jejaring LIPI di Bogor, Jawa Barat pada Jumat.

“Hasil pemantauan itu menghasilkan ribuan kumpulan data struktur komunitas mangrove dari berbagai habitat yang digunakan untuk mengembangkan perangkat pemantau mangrove MONMANG dan menyusun buku indeks kesehatan mangrove atau Mangrove Health Index (MHI),” jelas Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Augy Syahailatua.

MONMANG adalah aplikasi ponsel pintar untuk melakukan input data dan analisis langsung dari situs lapangan saat melakukan pemantauan mangrove.

Aplikasi tersebut menyediakan parameter struktur komunitas mangrove, seperti kepadatan, ukuran morfologi, frekuensi, dominasi dan indeks kesehatan mangrove.

Augy menjelaskan, mangrove yang sehat memiliki kontribusi sosial dan ekonomi yang besar bagi masyarakat di sekitarnya, serta berperan melindungi wilayah pesisir dari bencana alam laut.

Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, I Wayan Eka Dharmawan, mengatakan MONMANG memudahkan pengukuran kanopi mangrove dan menfasilitasi pengiriman data ke spreadsheet (database).

Dia mengatakan, LIPI telah mengumpulkan ribuan dataset komunitas mangrove dari berbagai habitat di tanah air.

“Dataset ini ukuran satuannya per plot. Per plotnya terdiri atas lebih dari 1,300 plot,” tambahnya.

Eka Dharmawan menjelaskan, kendala dalam memantau mangrove di tanah air selama ini adalah keterbatasan waktu dan tenaga karena untuk menjangkau seluruh area, jumlah habitat, dan jumlah plot.

“MONMANG dapat meringkas pekerjaan tersebut termasuk menghitung persentase luasan kanopi ketika survey tersebut sedang dilakukan,” imbuhnya.

Sementara itu, buku indeks kesehatan mangrove disusun berdasarkan tiga parameter struktur tegakan hutan mangrove, yaitu kerapatan kanopi (persentase), rata-rata diameter batang pohon (cm), dan jumlah tegakan tiang atau pohon mangrove yang berukuran kecil (diameter batang kurang dari lima cm).

Indeks tersebut dapat menggambarkan stasus kesehatan mangrove, baik dari sisi vegetasi dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, sehingga membantu pengelola ekosistem mangrove dalam menentukan aksi-aksi pengelolaan.

“Kami ingin data tersebut bisa dimanfaatkan secara nasional dan internasional,” kata Eka Dharmawan.

Indonesia memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia dengan variasi habitat dan keragamanan hayati yang melimpah.

Total lahan mangrove di Indonesia adalah 3.112.989 hektare atau 22,6 persen  dari total ekosistem mangrove di dunia seluas 13.760.000 hektare.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here