Jajak pendapat cerminkan perpecahan partisan tentang demokrasi dan ekonomi di AS

Orang-orang mengunjungi National Mall di Washington DC, Amerika Serikat, pada 29 Maret 2022. (Xinhua/Liu Jie)

Kinerja demokrasi yang baik di Amerika Serikat dianggap merupakan masalah yang lebih penting dibandingkan ekonomi yang kuat selama beberapa tahun mendatang.

 

San Francisco, AS (Xinhua) – Kekhawatiran utama para pemilih (voter) terhadap kinerja demokrasi atau kekuatan ekonomi mencerminkan perpecahan sikap partisan yang berkelanjutan di seluruh Amerika Serikat (AS), menurut sebuah jajak pendapat terbaru.

Separuh dari keseluruhan likely voter merasa bahwa bagi AS, kinerja demokrasi yang baik merupakan masalah yang lebih penting dibandingkan ekonomi yang kuat selama beberapa tahun mendatang, berdasarkan jajak pendapat CBS/YouGov yang dirilis pada Ahad (14/1), hanya sehari menjelang kaukus Iowa. (Likely voter merupakan pemilih terdaftar yang kepada perusahaan jajak pendapat mengindikasikan niat kuat untuk memilih pada hari pemilihan.)

Namun, separuh lainnya dari likely voter merasa bahwa ekonomi yang kuat merupakan masalah yang lebih penting.

Total 64 persen dari pemilih Partai Demokrat memandang kinerja demokrasi yang baik merupakan masalah yang lebih penting. Sepertiga lebih dari pemilih Partai Republik dan sedikit di atas separuh dari pemilih independen memiliki pandangan yang sama.

Sebanyak 65 persen dari pemilih Partai Republik lebih cenderung melihat ekonomi yang kuat sebagai masalah yang lebih penting, menurut jajak pendapat tersebut.

Jajak pendapat itu juga menunjukkan bahwa di kalangan likely voter, Presiden Joe Biden tertinggal di belakang kandidat-kandidat utama Partai Republik dalam komparasi head-to-head hipotetis.

Mantan duta besar PBB Nikki Haley, Gubernur Florida Ron DeSantis, dan mantan presiden Donald Trump semuanya unggul atas Biden, dengan Haley mencatatkan keunggulan 8 poin, yang terbesar di antara ketiga anggota Partai Republik.

Jajak pendapat tersebut melibatkan 2.870 warga dewasa AS antara 10-12 Januari, dengan margin kesalahan plus atau minus 2,5 poin persentase, menurut laporan Axios.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan