Kerajinan batu mulia Pacitan dieskpor hingga Eropa

Kerajinan batu mulia Pacitan dieskpor hingga Eropa
Batu mulia asal Pacitan yang terkenal adalah dari kelompok kalsedon yang merupakan kriptokristalin senyawa silika, terdiri dari pertumbuhan kristal sangat halus dari mineral kuarsa dan morganit. (Indonesia Window)

Jakarta (Indonesia Window) – Bersama dengan Gunungkidul di Yogyakarta dan Wonogiri di Jawa Tengah, Pacitan di Provinsi Jawa Timur masuk dalam Geopark Gunung Sewu yang telah mendapat predikat UNESCO Global Geopark pada tahun 2015.

Sesuai namanya, Gunung Sewu atau pegunungan seribu, morfologi ketiga daerah tersebut adalah pegunungan yang utamanya tersusun atas batugamping.

Namun, Pacitan sedikit berbeda dari dua daerah lainnya karena di sini banyak dijumpai batu mulia dengan anek warna dan corak yang sangat menarik.

Batu mulia asal Pacitan yang terkenal adalah dari kelompok kalsedon yang merupakan kriptokristalin senyawa silika, terdiri dari pertumbuhan kristal sangat halus dari mineral kuarsa dan morganit.

Selain itu, ada juga batuan obsidian aneka warna yang berasal dari material vulkanik dan fosil kayu yang menakjubkan.

Pesona batu mulia Pacitan semakin terpancar dengan banyaknya para pengrajin batu mulia yang menjadikan kekayaan alam ini menjadi berbagai bentuk perhiasan, perabotan, atau barang investasi yang bernilai tinggi.

Kerajinan batu mulia atau akik Pacitan bahkan telah dinikmati oleh masyarakat di Eropa dan Amerika yang secara khusus dan teratur memesan batu mulia hasil kerajinan salah seorang pengrajin lokal, Suparjianto.

Pengusaha asli Pacitan yang telah bergiat di bisnis batu mulia sejak 27 tahun lalu tersebut mengatakan, pesanan kerajinan batu akik paling banyak datang dari Belanda, Jerman, Amerika Serikat dan Brazil.

“Pesanan dari Belanda dan Jerman berupa handle (pegangan) laci. Kalau dari Amerika, mereka biasanya minta tutup botol, napkin ring, dan coaster (tatakan atau alas gelas),” ujar Suparjianto baru-baru ini.

Menurut dia, pesanan yang datang dari pasar luar negeri cukup menantang karena spesifikasi dan desain produk yang diminta oleh para pelanggan sangat detail dan unik, mulai dari warna, corak hingga bentuk.

Suparianto mengakui, alat pengasah batu mulia yang tersedia pada umumnya sebenarnya tidak bisa sepenuhnya digunakan untuk menghasilkan bentuk sesuai rancangan para pemesan.

“Makanya, alat yang biasanya dipakai, saya modifikasi lagi supaya hasil pemotongan dan pengasahan bisa sesuai dengan desain yang diinginkan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa sejauh ini dia semua pesanan yang masuk selalu selalu dapat dipenuhi, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas.

Meskipun sektor pariwisata terpukul telak di masa pandemik COVID-19, usaha batu akik Suparianto tak pernah sepi karena pesanan dari para pelanggan terus berdatangan.

“Saya juga mengikuti business meeting atau pameran untuk promosi produk yang biasanya digelar di Bali. Selain itu, ada dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan dan Provinsi Jawa Timur juga,” terang Suparjianto yang memegang sertifikat dari Asian Institute of Gemological Sciences (AIGS) Bangkok, Thailand.

Pameran batu mulia, menurut dia, lebih efektif untuk menarik calon pembeli karena mereka lebih suka melihat produk kerajina secara langsung ketimbang hanya mengetahuinya lewat gambar.

Kerajinan batu mulia Pacitan dieskpor hingga Eropa
Suparjianto, pengusaha batu akik Pacitan. (Indonesia Window)
Kerajinan batu mulia Pacitan dieskpor hingga Eropa
Pegangan laci dan tutup botol yang terbuat dari batu akik Pacitan hasil karya Suparjianto. (Indonesia Window)
Kerajinan batu mulia Pacitan dieskpor hingga Eropa
Beberapa koleksi batu akik bergambar yang dipamerkan di Gita Batu Alam milik Suparjianto. (Indonesia Window)
Kerajinan batu mulia Pacitan dieskpor hingga Eropa
Fosil kayu setinggi sekitar 2,5 meter. (Indonesia Window)

Batu mulia

Pusat bisnis kerajinan batu akik Suparjianto bernama Gita Batu Alam, berada tepat di seberang lokasi wisata Gua Tabuhan di Kecamatan Punung.

Di toko kerajinan yang sekaligus dijadikan workshop tersebut, Suparjianto memamerkan beragam produk batu akik hasil kreasinya, serta menyimpan bebatuan mulia yang dibelinya dari warga sekitar dalam bentuk bongkahan dengan harga bervariasi berdasarkan berat dan keunikannya.

Selanjutnya, bebatuan itu dipotong dan diasah dengan memperhatikan struktur dan serat di dalam batuan sehingga hasil asahan memperlihatkan bentuk permukaan batu dan motif yang jauh lebih menarik.

Walhasil, batu akik kreasi Suparianto dihargai berlipat daripada saat pertama kali dibeli dari para warga.

“Saya pernah menjual batu akik bermotif kembang sepatu seharga 25 juta rupiah. Saya juga punya batu mulia yang ada tulisan “Allah” dalam Bahasa Arab, dan sudah ditawar seharga 10 juta rupiah,” ujarnya.

Suparianto berharap pemerintah daerah dan pusat senantiasa mendukung usaha batu mulia di Pacitan karena sumber daya alam ini telah menjadi ikon Pacitan, selain wisata gua dan pantai yang banyak dijumpai di daerah ini, serta menjadi sumber pedapatan bagi masyarakat setempat.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here