Kandungan FAME dalam B30 jaga kualitas mesin kendaraan

Kandungan FAME dalam B30 jaga kualitas mesin kendaraan
Sampel biodiesel sesuai besaran campuran biodiesel di dalam BBM jenis solar. (Kementerian ESDM)

Jakarta (Indonesia Window) – Pengunaan bahan bakar campuran 30 persen biodiesel dan 70 persen solar atau dikenal dengan B30 telah diterapkan dalam skala besar pada 2020.

Dengan kandungan FAME (fatty acid methyl ester) yang berasal dari kelapa sawit dan hasil pengujian yang menujukkan hasil baik, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin pemanfaatan B30 pada kendaraan bermesin diesel tidak akan menimbulkan kerugian dan mempengaruhi kualitas mesin kendaraaan.

“Implementasi Program Mandatori Biodiesel, termasuk B30 dijalankan dengan perencanaan yang matang dan sistematis, serta melalui rangkaian uji komprehensif dan konstruktif guna memastikan penggunaannya tidak menimbulkan kerugian dan kerusahan mesin kendaraan, tapi justru berperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan,” kata Direktur Bioenergi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) pada Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, di Jakarta, Rabu (15/1).

Sebelum diterapkan, pihaknya telah melakukan revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) biodiesel dan melakukan uji jalan atau fungsi B30.

Selain itu, pemerintah juga memastikan beberapa hal, yakni kesiapan produsen biodiesel, metode sistem handling dan penyimpanan yang tepat, serta kesiapan infrastruktur.

Sosialisasi juga dilakukan guna memastikan B20 diterima semua pihak terkait.

Pengujian

Menurut Andriah, B30 telah melalui pengujian di lokasi dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah guna melihat kemampuan bahan bakar tersebut beradaptasi pada kondisi udara yang lebih dingin.

Uji tersebut menunjukkan start ablility mesin kendaraan berjalan mulus setelah didiamkan (soaking) pada corong terpisah selama 21 hari.

Setelah melewati uji itu, kendaraan berbahan bakar B30 melanjutkan uji jalan (road test) hingga jarak tempuh 640 kilometer setiap hari pada berbagai lintasan.

Khusus lintasan lurus, kestabilan mobil dijaga dengan kecepatan maksimal 100 km per jam.

“B30 pada dasarnya siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif terhadap biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat, terutama mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan karet nitril,” jelas Andriah.

Dia memaparkan, keberhasilan dari penggunaan B30 tergantung kepada tiga hal, yakni kualitas bahan bakar (biodiesel dan solar), handling/penanganan bahan bakar dan kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut.

Kerusakan yang terjadi pada injektor bisa diakibatkan oleh ketidaksesuaian salah satu atau lebih dari ketiga hal tersebut.

“Terkait penumpukan di dalam filter mesin, kasus ini hanya berlaku untuk kendaraan lama atau yang sudah lama menggunakan B0. Jika dari awal sudah menggunakan B20 biasanya tidak ada masalah dan dapat dilanjutkan dengan penggunaan B30,” katanya.

Andriah menambahkan, peningkatan campuran biodiesel dari B20 ke B30 pada dasarnya tidak akan menimbulkan tumpukan endapan karena kenaikan spesifikasi dari B20 (20 parameter) ke B30 (24 parameter), di mana kadar monogliserida dan air telah diperkecil.

Parameter yang juga memuaskan dari pengujian adalah emisi gas buang CO atau karbon monoksida pada kendaraan yang menggunakan B30 lebih rendah, berkisar 0,1 – 0,2 g/km terhadap ambang batas (1,5 g/km).

Sementara itu, emisi THC (total hidrokarbon) mengalami penurunan sampai 46 persen dan kenaikan hingga 9.9 persen.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here