“Jealousy trap”

“Jealousy trap”
Ilustrasi. (ARadhwa)

Pernah nggak kamu merasa tidak senang terhadap seseorang karena dia punya sesuatu yang tidak kamu miliki?

Kayak gini. Teman kita punya adik. Trus, kita mikir, “Enak ya punya adik. Aku juga pengen punya adik.”

Itu namanya iri atau cemburu.

Iri nggak selamanya jelek. Ada juga iri yang baik.

Contoh iri baik itu kalau kita punya teman yang berprestasi di sekolah seperti juara kelas, juara seni, juara karate, juara catur, dan sebagainya. Trus, kita jadi iri kepadanya. Lalu, kita berusaha keras untuk menyamai prestasinya sampai cita-cita kita tercapai.

Tapi untuk bisa berprestasi mungkin ada saja orang yang meraihnya dengan curang. Misalnya, dia melecehkan teman sekelas atau mencelakakan lawan dalam pertandingan agar dia menang. Ini namanya iri yang jelek.

Kelihatannya aja dia menang. Tapi sebenarnya dia dikalahkan oleh rasa iri.

Orang yang iri hatinya akan menderita melihat orang lain mempunyai sesuatu atau kenikmatan yang tidak dia miliki.

Kalau merasa iri, lebih baik kita berusaha seperti orang lain supaya bisa meraih apa yang kita impikan.

Seperti di film Karate Kid. Ada anak kecil namanya Shiao Dree. Dia selalu diremehkan dan dicelakakan lawannya di turnamen karate. Tapi akhirnya dia menang karena pantang menyerah.

Aku punya cerita keluarga nabi tentang iri.

Jadi gini. Nabi Adam ‘alaihi salam adalah manusia pertama. Dia mempunyai istri bernama Siti Hawwa.

Nabi Adam ‘alaihi salam dan Hawwa punya dua orang anak kembar lelaki bernama Habil dan Qabil.

Habil sifatnya rendah hati dan baik, sedangkan Qabil kebalikannya.

Mereka punya saudara kembar perempuan, namanya Iqlima dan Labuda.

Suatu hari, Nabi Adam ‘alaihi salam ingin menjodohkan Iqlima yang cantik nan menawan dengan Habil.

Loh, kok saudara kandung boleh menikah?

Iya, karena tak ada manusia lain di zaman itu, padahal manusia harus punya keturunan. Makanya Allah ﷻ membolehkan pernikahan dengan sesama saudara yang bukan kembarannya.

Karena Habil akan dijodohkan dengan Iqlima, maka Qabil juga akan dinikahkan dengan Labuda.

Tetapi, Qabil menolak karena dia maunya dengan Iqlima.

Lalu, Nabi Adam ‘alaihi salam memohon petunjuk Allah ﷻ untuk menyelesaikan masalah itu.

Akhirnya Nabi Adam ‘alaihi salam memutuskan untuk menyuruh mereka mengurbankan barang terbaiknya kepada Allah ﷻ.

Kalau barang kurban mereka diterima Allah ﷻ, maka akan ada petir yang menyambar dan membakar persembahan mereka.

Qabil pun berpikir untuk mempersembahkan jenis gandum yang paling jelek dari hasil pertaniannya karena dia tidak mau barang kurbannya yang bagus tersambar dan terbakar oleh petir.

Sementara Habil berpikir bahwa dia harus mempersembahkan kambing yang paling bagus karena kurban itu ditujukan untuk Allah ﷻ.

Selanjutnya, tentu saja kambing punya Habil yang diterima oleh Allah ﷻ.

Maka sesuai kesepakatan, Habil yang terpilih menikahi Iqlima.

Tapi Qabil tak menerima keputusan itu. Hal ini terdengar oleh setan dan menyuruh Qabil membunuh Habil supaya bisa merebut Iqlima.

Qabil pun mengikuti bujukan setan, lalu membunuh saudara kembarnya.

Tapi, alangkah menyesalnya Qabil setelah membunuh adiknya sendiri hanya karena rasa iri terhadap apa yang dimiliki oleh saudaranya itu.

Saat Habil meninggal, dia tak tahu bagaimana memperlakukan mayat saudara kembarnya itu.

Allah ﷻ lalu mengutus dua burung gagak yang berkelahi hingga salah satunya mati.

Gagak yang hidup kemudian menggali tanah dengan cakarnya untuk mengubur burung yang mati.

Qabil yang menyaksikan peristiwa itu pun lalu meniru perbuatan burung gagak.

Setelah saudaranya dikubur, Qabil sangat menyesal dan tak berani pulang.

Tuh kan, rasa iri itu bisa membuat orang membunuh dan terbunuh, kan?

Sangat mengerikan.

Jangan sampai kita punya rasa iri yang buruk seperti Qabil.

Penulis: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim (calon santri Pondok Pesantren Gontor; penulis novel berjudul ASGIT 1 & ASGIT 2 dan buku puisi-pantun berjudul Sia-sia Saja Air Matamu)

7 Komentar

  1. Masyaallah adek rahdwa you’re my inspiration 🥰
    Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar rumput ((HR Abu Daud))
    Semoga kita di jauhkan dari sifat iri dan dengki 🙏 amiin😊

  2. Saya juga sering cemburu dengan teman teman sendiri,dengan kasus yang sama yaitu capaian prestasi dan kecerdasan,tapi alhamdulillah saya tidak pernah berada pada jealousy trap,saya lebih banyak menyalahkan diri sendiri kenapa tidak bisa berprogress seperti mereka. So i could say that i am jealous in a Good way 🙂 Kehidupan setiap orang memang berbeda,tapi Allah selalu memberikan kesempatan yang sama kok pada hambanya 😉

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here