Indonesia terapkan ‘cofiring’ biomassa tingkatkan bauran energi

Indonesia terapkan ‘cofiring’ biomassa tingkatkan bauran energi
Ilustrasi. Pemerintah Indonesia mendorong penerapan 'cofiring' dalam bentuk pelet biomassa yang bersumber dari berbagai sampah organik sebagai pengganti batu bara pada pembangkit listrik. (Rudy and Peter Skitterians from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Pemerintah Indonesia mendorong penerapan cofiring biomassa sebagai pengganti batu bara pada pembangkit listrik guna mengurangi penggunaan energi fosil tersebut dan mencapai target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada 2025.

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) pada Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, mengatakan hal tersebut pada peluncuran Biofuture Platform dalam rangkaian pertemuan daring International Clean Energy Ministerial (CEM11) ke-11 pada Rabu (16/9).

“Kami mendorong cofiring biomassa pada pembangkit listrik tenaga batu bara dengan harapan bisa memenuhi target tambahan bauran energi sebesar 1-3 persen pada tahun 2025, serta berkomitmen melanjutkan penggunaan B30 dan akan terus mengembangkan biodiesel dengan campuran lebih tinggi, yakni, B40,” jelas Feby, dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Cofiring adalah teknologi berbiaya rendah yang mengubah biomassa menjadi listrik secara efisien dan bersih dengan menambahkan sumber energi terbarukan itu sebagai bahan bakar pengganti parsial dalam boiler (pendidih) batu bara.

Dalam skema cofiring, potensi biomassa yang akan dioptimalkan penggunaannya adalah pelet biomassa yang bersumber dari segala jenis sampah organik.

Teknologi cofiring diharapkan mengoptimalkan potensi pembangkit listrik tenaga biomassa di tanah air yang sampai saat ini baru mencapai kurang dari 1,9 gigawatt dari total potensi sekitar 32 gigawatt.

“Sekitar 114 PLTU sudah melakukan uji cofiring dengan menggunakan pelet biomassa serta RDF (refused-derived fuel) yang berasal dari berbagai macam sampah hingga 10 persen, bergantung pada teknologi boiler. Kami berharap pada tahun 2021 dapat mulai menerapkan cofiring di PLTU batu bara secara berkelanjutan,” ujar Feby.

Sementara itu, dalam penerapan B30 dan pengembangan B40, Feby menjelaskan, campuran biodiesel adalah cara yang efisien untuk mengembangkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Pada 2019, realisasi konsumsi biodiesel di tanah air sebesar 6,4 juta kiloliter.

Konsumsi biodiesel pada 2020 diproyeksikan akan turun sebesar 13 persen dari alokasi tahun 2020 sebesar 9,6 juta kiloliter akibat pandemik COVID-19.

“Meskipun terpukul pandemik, pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk melanjutkan program wajib B30,” tegasnya.

Pemerintah juga tengah melakukan persiapan uji coba B40.

PT Pertamina bersama ITB (Institut Teknologi Bandung) dan pemangku kepentingan terkait lain sedang mengembangkan katalisator untuk menghasilkan energi hijau berbasis minyak sawit yang diharapkan siap diproduksi pada 2023.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here