Indonesia target ke-3 “phishing” di Asia Tenggara

Indonesia target ke-3 “phishing” di Asia Tenggara
Ilustrasi. (Photo by Markus Spiske on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Indonesia masuk dalam tiga besar negara di Asia Tenggara yang menjadi sasaran serangan phishing pada paruh pertama 2019, menurut perusahaan keamanan dunia maya Kaspersky yang bermarkas di Moskow, Rusia, mengutip kantor berita Vietnam (VNA) di Jakarta, Senin.

Statistik terbaru yang disusun oleh Kaspersky menunjukkan Asia Tenggara tetap menjadi target para penjahat dunia maya yang mencoba menginfeksi jaringan dan perangkat melalui trik paling sederhana namun paling efektif yang disebut phishing.

Phishing adalah tindakan memperoleh informasi pribadi seperti user ID, password serta data dan informasi penting lainnya, seperti nomor kartu kredit, dengan menyamar sebagai orang atau organisasi yang berwenang melalui sebuah email.

Perusahaan keamanan siber global itu mendeteksi 14 juta upaya phishing terhadap pengguna internet di kawasan ini selama enam bulan pertama tahun 2019.

Data statistik Kaspersky pada paruh pertama tahun 2019 menunjukkan persentase phishing Indonesia sebesar 14,3 persen, naik dari 10,7 persen tahun lalu.

Di atas Indonesia, ada Filipina memiliki persentase korban phishing tertinggi dengan 17,3 persen. Angka ini 65,56 persen lebih tinggi dibandingkan dengan data pada periode yang sama tahun lalu sebesar 10,449 persen.

Menyusul Filipina di urutan kedua adalah Malaysia dengan 15,8 persen pengguna terinfeksi melalui phishing, naik dari 11,2 persen pada paruh pertama tahun 2018.

Data statistik itu mengungkapkan ada lebih dari 11 juta upaya gabungan yang terdeteksi dari tiga negara tersebut.

Di urutan keempat ada Thailand dengan skor 11,9 persen atau hampir 1,5 juta serangan, naik dari 10,9 persen pada tahun sebelumnya, sedangkan Vietnam menyusul dengan 11,7 persen, meningkat dari 9,4 persen pada 2018.

Sementara itu, kasus phishing Singapura tercatat sebesar 5 persen atau setara dengan 351.510 serangan dari Januari hingga Juni tahun ini. Angka ini naik dari 4,1 persen pada 2018.

“Ancaman lama namun efektif ini nyata di Asia Tenggara dan tidak menunjukkan tanda-tanda menurun dalam waktu dekat. Wilayah ini terdiri atas populasi muda yang besar dan sangat mobile dan, diakui atau tidak, kita perlu mendidik mereka tentang risiko serangan dasar seperti phishing,” kata Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Kaspersky untuk Asia Tenggara.

Menurut dia, para pengguna muda membeli telepon baru kemudian berpikir untuk mengamankannya secara fisik, namun tidak pernah secara virtual.

“Dan selama individu-individu ini terus menurunkan kewaspadaan saat menggunakan internet, kami yakin bahwa kami akan terus menghitung korban phishing berulang kali,” tambah dia.

Laporan: Indonesia Window

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here