Ilmuwan Rusia ramalkan puing ruang angkasa 100 tahun ke depan

Sistem Satelit Navigasi Global
Ilustrasi. Fisikawan Rusia di Universitas Negara Tomsk telah menciptakan model matematika untuk menghitung lintasan puing-puing ruang angkasa, seperti satelit antariksa yang mati dan pecahan pesawat ruang angkasa, selama 100 tahun ke depan. (NASA on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Fisikawan Rusia di Universitas Negara Tomsk telah menciptakan model matematika untuk menghitung lintasan puing-puing ruang angkasa, seperti satelit antariksa yang mati dan pecahan pesawat ruang angkasa, selama 100 tahun ke depan.

Yayasan Rusia untuk Riset Dasar (Basic Research) telah memberikan dana khusus untuk menentukan lintasan benda-benda semacam itu di ruang dekat Bumi, kata layanan pers universitas kepada Kantor Berita TASS.

Pada tahun 1978, ilmuwan Lembaga Antariksa AS (NASA) Donald Kessler memperingatkan bahwa penumpukan puing-puing antariksa di ruang dekat Bumi dan kepadatannya yang semakin meningkat dapat menyebabkan tabrakan antarbenda dan memicu reaksi berantai yang mengakibatkan kehancuran semua satelit yang beroperasi di ketinggian Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) atau lebih tinggi dari itu.

Sekarang para ahli kendali misi luar angkasa harus memikirkan masalah ini dan menyesuaikan orbit ISS dan satelit untuk menghindari tabrakan dengan puing-puing.

“Ada masalah objek yang tidak terkendali dapat merusak satelit operasional. Ada dua solusi, yakni, satelit terlantar harus dideorbitkan. Untuk itu, evolusi jangka panjang orbitnya akan harus ditetapkan. Katakanlah, objek tertentu yang tidak terkendali dapat tinggal di luar angkasa selama sepuluh tahun tanpa merusak objek lain,” sebut layanan pers universitas mengutip penulis dan peneliti dari laboratorium pemodelan dan analisis komputer data astronomi dari Universitas Negara Tomsk, Yevgeniya Blinkova.

“Tetapi dalam rentang waktu 100 tahun atau lebih, orbitnya dapat berubah drastis. Oleh karena itu, kami membuat keputusan untuk melakukan penelitian masalah ini,” tambah pernyataan itu.

Objek yang tidak terkontrol

Istilah benda tak terkendali pertama-tama diterapkan pada satelit lama yang sudah tidak berfungsi dan pecahan besar pesawat ruang angkasa.

Mereka paling sering berada di orbit Bumi rendah dan sedang (LEO/Low Earth Orbit dan MEO/Medium Earth Orbit), yakni dari atmosfer ke orbit sistem navigasi GLONASS (Global Navigation Satellite System) atau Sistem Satelit Navigasi Global dan GPS (Global Positioning System) atau Sistem Pemosisian Global.

Objek di area luar angkasa rentan terhadap efek medan gravitasi bumi, tarikan Bulan dan matahari, tekanan cahaya dan perbedaan resonansi yang dihasilkan dari kecepatan rotasi Bumi dan presesi orbit Bumi dan Bulan.

Ilmuwan Universitas Negera Tomsk telah mempelajari dan mengubah kondisi itu menjadi model matematika.

“Pengetahuan yang didapat sekarang akan diterapkan pada benda nyata. Yevgeniya Blinkova akan mengetahui bagaimana mereka (objek-objek luar angkasa) akan bergerak dan didistribusikan kembali di luar angkasa dan mempelajari dinamika seluruh entitas benda tak terkendali di ruang dekat Bumi,” kata layanan pers.

Ilmuwan menjelaskan bahwa benda-benda luar angkasa dapat dideorbitkan tepat waktu atau ditempatkandi orbit baru, di mana mereka tidak akan menjadi penghalang.

“Dalam orbit peluncuran ada lebih dari 13.400 objek, di mana 6 persen di antaranya adalah yang operasional. Semua lainnya adalah puing-puing. Melacak mereka dan menganalisis evolusi orbitnya sangat penting untuk eksperimen saat ini dan masa depan,” kata layanan pers, mengutip Profesor Tatyana Bordovitsyna, peneliti astronomi dan geodesi ruang dari Departemen Fisika Universitas Negera Tomsk.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here