Ilmuan teliti badak berbulu berusia 20.000 tahun yang ditemukan di Siberia

Ilmuan mulai teliti badak berbulu berusia 20.000 tahun yang ditemukan di Siberia
Ilmuwan Rusia telah menunjukkan kepada media sisa-sisa badak berbulu remaja yang mati sekitar 20.000 tahun lalu dengan 80 persen bahan organiknya masih utuh, termasuk rambut, gigi, tanduk, dan bahkan lemak. (Kantor Berita TASS)

Jakarta (Indonesia Window) – Bangkai badak berbulu purba yang terawetkan dengan cara yang unik, yang ditemukan di permafrost (tanah beku) Siberia yang mencair di hutan belantara Yakutian, dikirim ke kota Yakutsk agar para ilmuwan dapat memulai studi terperinci.

Ilmuwan Rusia telah menunjukkan kepada media sisa-sisa badak berbulu remaja yang mati sekitar 20.000 tahun lalu dengan 80 persen bahan organiknya masih utuh, termasuk rambut, gigi, tanduk, dan bahkan lemak, menurut surat kabar Siberian Times.

Badak berbulu itu ditemukan pada Agustus lalu di lapisan es Siberia yang mencair di hutan belantara Yakutian.

“Badak berbulu remaja berukuran sekitar 236 sentimeter, sekitar satu meter kurang dari hewan dewasa, dengan tinggi 130 sentimeter,” kata Dr. Gennady Boeskorov dari Akademi Ilmu Pengetahuan Yakutia kepada Siberian Times.

Para ilmuwan yakin badak remaja itu mati setelah terjebak di rawa saat melarikan diri dari pemburu manusia, tetapi penyebab pasti kematiannya belum dapat ditentukan.

Ini adalah badak berbulu kedua yang ditemukan di Republik Sakha tetapi yang pertama dari kelompok usia dan tingkat pengawetan seperti itu.

Sisa tubuh badak berbulu itu memberi para ilmuwan kesempatan untuk mempelajari cara badak tumbuh dan berkembang.

Dengan permafrost yang semakin mencair di tundra (bioma dengan sedikit pohon karena suhu rendah dan musim tanam yang singkat) Siberia, penemuan semacam itu menjadi lebih sering.

Kekhawatiran telah disuarakan atas kemungkinan peremajaan bakteri atau virus purba yang terbekukan selama puluhan ribuan tahun.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here