Jakarta (Indonesia Window) – Harga minyak di pasar global pada perdagangan Selasa (18/1) atau Rabu pagi WIB naik ke level tertinggi sejak 2014 karena investor khawatir tentang ketegangan politik global yang melibatkan produsen utama seperti Uni Emirat Arab dan Rusia yang dapat memperburuk prospek pasokan minyak yang sudah ketat.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 1,03 dolar AS atau 1,2 persen, menjadi 87,51 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir naik 1,61 dolar AS, atau 1,9 persen lebih tinggi pada 85,43 dolar AS per barel.

Kenaikan minyak mentah Brent dan WTI telah menyentuh level tertinggi sejak Oktober 2014, dan beberapa sumber OPEC seperti dikutip Reuters, mengatakan minyak 100 dolar AS per barel tidak di luar jangkauan.

Kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan minyak meningkat pekan ini setelah kelompok Houthi Yaman menyerang Uni Emirat Arab, meningkatkan permusuhan antara kelompok yang berpihak pada Iran dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

“Kerusakan pada fasilitas minyak UEA di Abu Dhabi tidak signifikan, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang gangguan pasokan yang lebih banyak lagi di kawasan itu pada 2022,” kata analis senior pasar minyak Rystad Energy, Louise Dickson.

Perusahaan minyak UEA ADNOC mengatakan telah mengaktifkan rencana kesinambungan bisnis untuk memastikan pasokan produk yang tidak terputus ke pelanggan lokal dan internasional setelah insiden di depot bahan bakar Mussafah.

Sementara itu, Rusia telah mengirimkan pasukan dalam jumlah besar di dekat perbatasan Ukraina yang diperkirakan memicu kekhawatiran terjadinya invasi. Sementara, pejabat AS dan Jerman telah membahas cara untuk menghalangi Rusia yang mencakup penghentian pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia ke Eropa tengah.

Pada saat yang sama, produsen dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sedang berjuang untuk memompa produksi minyak pada kapasitas yang diizinkan berdasarkan perjanjian OPEC+ dengan Rusia dan sekutunya untuk menambah 400.000 barel per hari setiap bulan.

OPEC berpegang pada perkiraannya bahwa ada pertumbuhan yang kuat dalam permintaan minyak dunia pada tahun 2022, meskipun varian virus corona Omicron semakin merebak dan perkiraan bahwa Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga.

Analis Goldman Sachs memperkirakan persediaan minyak di negara-negara Organisasi untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) turun ke level terendah sejak 2000 pada musim panas, dengan harga minyak Brent naik menjadi 100 dolar AS per barel pada akhir 2022.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan