Jakarta (Indonesia Window) – Harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2008 pada akhir perdagangan Senin (7/3) atau Selasa pagi WIB, karena Amerika Serikat dan sekutu Eropa membahas larangan impor minyak Rusia sementara kecil kemungkinan minyak Iran akan kembali cepat ke pasar global.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei terangkat 5,10 dolar AS atau 4,3 persen, menjadi ditutup pada 123,21 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, setelah sempat mencapai tertinggi 139,13 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April bertambah 3,72 dolar AS atau 3,2 persen, menjadi menetap di 119,40 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, penutupan tertinggi sejak September 2008. Minyak WTI sempat diperdagangkan setinggi 130,50 dolar AS per barel.

“Lonjakan harga telah dipicu oleh fakta bahwa Barat sedang mempertimbangkan untuk melarang impor minyak Rusia sebagai tanggapan atas perang di Ukraina,” kata Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research, pada Senin (7/3) dalam sebuah catatan.

“Gambaran yang lebih besar adalah bahwa gangguan pasokan semakin parah,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston. “Tidak ada yang ingin menyentuh apa pun yang berhubungan dengan Rusia.”

Harga minyak global telah melonjak sekitar 60 persen sejak awal 2022, meningkatkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global dan stagflasi. China, ekonomi nomor dua dunia, menargetkan pertumbuhan yang lebih lambat sebesar 5,5 persen tahun ini.

Pada Ahad (6/3), Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan Amerika Serikat dan sekutu Eropa sedang menjajaki pelarangan impor minyak Rusia. Gedung Putih pada Senin (7/3) mengatakan Presiden Joe Biden belum membuat keputusan tentang larangan impor minyak Rusia.

Harga minyak bisa naik ke lebih dari 300 dolar AS per barel jika Amerika Serikat dan Uni Eropa melarang impor minyak dari Rusia, Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan pada Senin (7/3).

“Kami mempertimbangkan 125 dolar AS per barel, perkiraan jangka pendek kami untuk minyak mentah Brent, sebagai batas lunak untuk harga, meskipun harga bisa naik lebih tinggi jika gangguan memburuk atau berlanjut untuk periode yang lebih lama,” kata analis komoditas UBS Giovanni Staunovo.

Perang berkepanjangan di Ukraina dapat mendorong Brent di atas 150 dolar AS per barel, katanya.

Analis di Bank of America mengatakan jika sebagian besar ekspor minyak Rusia dihentikan, mungkin ada kekurangan 5 juta barel per hari (bph) atau lebih besar dari itu, mendorong harga setinggi 200 dolar AS per barel.

Rusia adalah pengekspor minyak mentah dan produk minyak terbesar di dunia, dengan ekspor sekitar 7 juta barel per hari, atau 7,0 persen dari pasokan global. Beberapa volume ekspor minyak Kazakhstan dari pelabuhan Rusia juga menghadapi komplikasi.

Sementara itu, pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan kekuatan dunia terperosok dalam ketidakpastian setelah Rusia menuntut jaminan AS bahwa sanksi yang dihadapinya atas konflik Ukraina tidak akan merugikan perdagangannya dengan Teheran. China juga mengajukan tuntutan baru, kata sebuah sumber.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian mengatakan Teheran tidak akan membiarkan “elemen asing apa pun merusak kepentingan nasionalnya,” media pemerintah Iran melaporkan, sementara Kementerian Luar Negeri mengatakan pihaknya menunggu penjelasan dari Rusia.

Prancis mengatakan kepada Rusia untuk tidak melakukan pemerasan atas upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, sementara pejabat tinggi keamanan Iran mengatakan prospek pembicaraan “tetap tidak jelas.”

Iran akan membutuhkan beberapa bulan untuk memulihkan aliran minyak bahkan jika mencapai kesepakatan nuklir, kata para analis.

Secara terpisah, para pejabat AS dan Venezuela membahas kemungkinan pelonggaran sanksi minyak terhadap Venezuela tetapi membuat sedikit kemajuan menuju kesepakatan dalam pembicaraan bilateral tingkat tinggi pertama mereka dalam beberapa tahun, kata lima sumber yang mengetahui masalah tersebut, saat Washington berusaha memisahkan Rusia dari salah satu sekutu utamanya.

Di tempat lain di Irak, ladang minyak West Qurna 2 akan kembali beroperasi pada Selasa dan produksi akan meningkat secara bertahap untuk mencapai produksi normal 400.000 barel per hari, dua sumber minyak mengatakan kepada Reuters, Senin (7/3). Ladang minyak ditutup sementara untuk pemeliharaan bulan lalu.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan