Haji1441 – Kaum wanita Makkah tinggalkan tradisi 70 tahun karena pandemik

Haji1441 – Kaum wanita Makkah tinggalkan tradisi 70 tahun karena pandemik
Para perempuan Makkah berkumpul di Masjidil Haram pada 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) saat jamaah haji dan kaum lelaki di kota suci tersebut pergi ke Arafah (sekitar 20 kilometer dari Makkah) untuk menunaikan wukuf (berdiam diri sambil berdoa). (Saudi Gazette)

Jakarta (Indonesia Window) – Tanggal 9 Dzulhijjah adalah saat yang dinanti-nanti oleh para perempuan Makkah.

Pada waktu itu, yang merupakan Hari Arafah, jamaah haji dan kaum lelaki Makkah pergi ke padang Arafah (sekitar 20 kilometer dari Makkah) untuk menunaikan wukuf, yakni berdiam diri sambil memanjatkan doa dari terbit hingga tenggelamnya matahari.

Para lelaki Makkah pergi ke Arafah untuk menemani jemaah haji sambil menawarkan berbagai layanan kepada mereka.

Di waktu yang sama, kaum perempuan Makkah pergi ke Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah tawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Selain menjalankan tawaf, kaum perempuan Makkah juga berkesempatan mencium Hajar Aswad (batu hitam yang ditempatkan di salah satu bagian Ka’bah), menunaikan sholat di Multazam (area di antara Hajar dan pintu Ka’bah), dan berbuka puasa di mataf (area tawaf) dengan bebas.

Dengan lempangnya Masjidil Haram pada Hari Arafah, mereka dapat menghabiskan sepanjang hari di dekat Ka’bah, sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Namun, tradisi mulia yang telah berlangsung selama 70 tahun tersebut terpaksa tidak dapat ditunaikan tahun ini menyusul terjadinya pandemik COVID-19 yang juga telah mengurangi jumlah jamaah haji hingga hanya 10.000 orang.

Sameer Barqa, seorang peneliti tentang sejarah Makkah, mengatakan bahwa Hari Arafah mulai dikenal di kalangan perempuan Makkah sebagai Hari Al-Khaleef, yang berarti orang yang kembali (dari haji).

“Di masa lalu, ada tradisi saat kaum laki-laki dari masyarakat Makkah sepenuhnya terlibat dalam kegiatan haji, dan dengan demikian memberikan kesempatan langka bagi kaum perempuan untuk menghabiskan hari yang diberkahi itu di tempat yang paling diberkahi di bumi,” jelas Sameer.

“Ketika kaum lelaki pergi ke tempat-tempat suci sejak Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), hari pertama haji, kota suci Makkah akan kosong dari laki-laki, sedangkan kaum perempuan akan keluar untuk menjaga lingkungan,” imbuhnya.

Namun tahun ini, pandemik COVID-19 telah menghalangi kaum wanita dari menjalankan tradisi tersebut karena mereka harus tetap berada di dalam rumah sebagai tindakan pencegahan penularan penyakit pernapasan tersebut.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here