Fokus Berita – SMAIT Insantama selenggarakan seminar internasional hadapi ancaman resisi

SMAIT Insantama menggelar seminar internasional yang merupakan bagian dari program Smart Teen Competition (SMENTION) 2023, dengan tema ekonomi ‘Recover the Economy, Revive the Society, di Bogor, Jawa barat, pada 25-26 Februari 2023.

Seminar internasional tersebut menghadirkan antara lain Prof Dr. Kim Soo-il, Secretary-General of the Tourism Promotion Organization for Asia Pacific Cities dan Chair Professor at Daeshin University, Korea Selatan.

 

Bogor, Jawa Barat, (Indonesia Window) – Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Insantama menyelenggarakan seminar internasional untuk menghadapi ancaman resisi ekonomi yang bertajuk ‘Recover the Economy, Revive the Socitey’ di Bogor pada 25-26 Februari 2023.

Seminar internasional tersebut menghadirkan Prof Dr. Kim Soo-il, Secretary-General of the Tourism Promotion Organization for Asia Pacific Cities dan Chair Professor at Daeshin University, Korea Selatan.

Kegiatan tersebut juga menampilkan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., Ketua Dewan Penasehat Kelautan dan Perikanan Kadin dan Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia, dan Dr. Taifunisyam Taib Timbalan Dekan Pusat Asasi, Universiti Islam Antarbangsa, Malaysia.

Di samping itu, seminar internasional tersebut juga menhadirkan Dr. M. Rizal Taufikurrahman, M.Si., Head for Centre of Macroeconomic and Finance INDEF, serta Iqrar Mimadzakira, Ketua Umum OSIS SMAIT Insantama.

Pada kesempatan tersebut, Prof.  Dr. Kim Soo-il memberikan gambaran pemulihan ekonomi yang cukup cepat dan efisien di Korea Selatan, yang berbeda dengan Malaysia dan Indonesia karena negara di Asia Timur itu memiliki pendekatan yang cukup berbeda, yaitu bahwa Korea tidak mengenal atau menggunakan istilah pembangunan, melainkan peningkatan kondisi atau kapasitas sumberdaya.

Mantan Duta Besar Korea untuk Indonesia ini menjelaskan negaranya hanya berperan pada tahapan pondasi saja, yakni visi, kebijakan dan mobilisasi sumberdaya.

“Tahap berikutnya peran pemerintah sudah jauh berkurang karena perusahaan-perusahaan yang sudah besar (seperti Samsung dan LG) akan  mengembangkan ekonomi secara bebas dan membawa manfaat untuk Korea,” katanya, seraya menambahkan, hal ini bisa dilakukan karena perusahaan di Korea memahami dan memiliki satu frekuensi dengan visi negara.

Sementara itu, Dr. Taifunisyam Taib memaparkan pengalaman Malaysia memulihkan kondisi ekonomi sejak pandemi hingga pasca pandemi.

“Pemulihan ekonomi dilakukan dalam dua pendekatan besar, yakni secara makro (top down policy) dan mikro (bottom up policy). Kebijakan makro semasa dan pasca pandemi dilakukan antara lain dengan penurunan pungutan cukai, moratorium bank, kebijakan kebangkrutan usaha, pengendalian inflasi, inisiatif ekonomi dan meningkatkan investasi asing,” ungkapnya.

Sedangkan secara mikro pascpandemi, dilakukan dengan subsidi harga barang-barang, pengendalian monopoli usaha, peningkatan bisnis online bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan kebijakan work from home, dia menambahkan.

“Dua pendekatan kebijakan ini relatif mampu menanggulangi situasi dan kondisi ekonomi Malaysia yang juga terkena imbas pandemi.  Jumlah penduduk yang relatif sedikit dan kondisi ekonomi yang lebih baik membuat pemulihan ekonomi berlangsung lebih cepat,” ujarnya.

Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan situasi dan kondisi yang dihadapi dalam presentasinya yang berjudul ‘Peta Jalan Pembangunan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045’.

Ketua Dewan Penasehat Kelautan dan Perikanan Kadin itu menyajikan peta jalan bagi Indonesia dari posisinya sebagai negara berpenghasilan menengah menjadi negara maju-adil-makmur dan berdaulat dalam formula Pertumbuhan Ekonomi = f (I, E, K, Im).

“Dengan formula tersebut, posisi negara maju ini hanya dapat dicapai jika kita berhasil memiliki pertumbuhan ekonomi berkualitas rata-rata tujuh persen per tahun selama 10 tahun; Investasi ditambah Ekspor hasilnya mesti lebih besar dari Konsumsi ditambah Impor; Koefisien Gini di bawah 0.3 (inklusif) yang berarti harus terjadi distribusi kekayaan yang memadai sehingga kekayaan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja; serta konsisten semua program pembangunan harus mencapai kondisi ramah lingkungan secara berkelanjutan,” paparnya.

Prof Rokhmin juga menjelaskan banyak aspek perbandingan capaian kinerja pembangunan ekonomi Indonesia dengan negara-negara lain.

Setelah mendapatkan penjelasan berbasis pengalaman di Malaysia dan Korea, lalu peta jalan menuju negara maju bagi Indonesia, Dr. M. Rizal Taufikurrahman memberikan tambahan wawasan yang melengkapi perspektif para peserta.

Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF tersebut membandingkan pendekatan ekonomi konvensional yang dipaparkan sebelumnya, membahas plus dan minusnya serta membandingkannya dengan pendekatan ekonomi berbasis syariah.

“Masalah ekonomi kita hari ini  ada pada aspek distribusi. Suatu negara bisa cepat atau lambat untuk maju ditentukan sejauh mana masalah distribusi itu diselesaikan,” katanya.

Menurutnya, dalam perspektif Islam, syariat telah memberikan panduan pengelolaan distribusi dalam pengaturan kepemilikan untuk pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan).

“Kepemilikan dalam Islam mencakup kepemilikan individu, umum maupun negara yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup rakyat dan mampu membuat negara menjadi maju.  Ciri negara maju bukan semata-mata berdasarkan income (pendapatan), tetapi juga kualitas hidup, kesehatan dan pendidikan,” tuturnya.

Sementara itu, Iqrar Mimadzakira mengungkapkan peran generasi muda dalam pemulihan ekonomi, melalui kontribusi dengan mulai bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

“Kata kuncinya adalah belajar dan taat pada syariat. Karena kunci dari kemajuan yang berkah adalah kemajuan dalam koridor ketaatan kepada Allah Swt. Karena Allah sebagai pencipta manusia beserta bumi tempat berpijak pasti Maha Tahu terhadap penyelesaian segala problematika kehidupan manusia termasuk ekonomi,” kata Iqrar.

Pada hari pertama, SMAIT Insantama menyelenggarakan program Smart Teen Competition (SMENTION) dengan tema ‘Recover the Economy, Revive the Society”.

SMENTION XII/2023 adalah kegiatan multilomba yang diikuti 574 orang dari sembilan cabang dan 11 kategori lomba. Peserta tersebut berasal dari 94 institusi, dengan rincian 33 SMP sederajat, 57 SMA sederajat dan empat perguruan tinggi yang ada di  DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan