FAO minta seluruh negara buat sistem pertanian pangan yang tangguh

FAO minta seluruh negara buat sistem pertanian pangan yang tangguh
Ilustrasi. (Rajesh Ram on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menekankan dalam sebuah laporan utama pada Selasa (23/11) agar seluruh negara di dunia membuat sistem pertanian pangan yang lebih terhubung, beragam, dan tahan terhadap bencana yang bisa datang tiba-tiba.

Laporan the State of Food and Agriculture 2021 (SOFA) yang disampaikan pada konferensi virtual di markas FAO di Roma, Italia itu menyebutkan sekitar 3 miliar orang di seluruh dunia tidak mampu membeli makanan yang sehat.

Sementara itu, 1 miliar orang akan berada dalam situasi yang sama jika ada situasi yang tiba-tiba mengurangi pendapatan mereka hingga sepertiga, menurut perkiraan FAO.

Selanjutnya, jika jaringan transportasi kritikal terganggu, maka biaya makanan akan meningkat hingga untuk 845 juta orang.

“Sejak jauh sebelum pandemik COVID-19, beberapa pendorong utama telah membuat dunia keluar jalur untuk mengakhiri kelaparan dan kekurangan gizi dunia dalam segala bentuknya pada 2030,” laporan FAO menekankan dalam pendahuluannya.

Tujuan ini sekarang menjadi lebih menantang karena pandemik dan pembatasan terkait telah menciptakan kesulitan besar bagi sistem pangan.

Sistem pertanian pangan, yang berarti seluruh rantai produksi, penyimpanan, transportasi, distribusi, dan konsumsi, menghasilkan 11 miliar ton makanan setiap tahun, menyediakan lapangan kerja langsung dan tidak langsung bagi miliaran orang.

Namun, laporan tersebut menggarisbawahi, “Sistem pangan tidak akan menjadi kekuatan yang kuat yang berkontribusi untuk mengakhiri kelaparan dan kekurangan gizi dalam segala bentuknya di dunia, kecuali mereka ditransformasikan dengan ketahanan yang diperkuat oleh pendorong utama yang diidentifikasi … dan diberi insentif untuk menyediakan makanan sehat yang terjangkau secara berkelanjutan dan inklusif.”

Pendorong utama kerawanan pangan dan malnutrisi termasuk konflik, peristiwa iklim ekstrem, dan penurunan ekonomi, dengan pandemik COVID-19 menjadi faktor tambahan pada tahun 2020.

“Pandemik menyoroti ketahanan dan kelemahan sistem pertanian pangan kita,” kata Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu dalam konferensi virtual.

Menurut temuan laporan tersebut, sementara negara berpenghasilan rendah berada pada risiko terbesar dari guncangan mendadak, negara berpenghasilan menengah juga menghadapi ancaman yang sama.

Tindakan yang disarankan oleh FAO adalah termasuk mendesak pemerintah untuk membuat ketahanan dalam sistem pertanian pangan mereka “bagian strategis dari tanggapan mereka terhadap tantangan yang sedang berlangsung dan di masa depan.”

Diversifikasi sumber input, produksi, pasar, dan rantai pasokan akan menjadi salah satu langkah kunci dalam strategi ini.

Keanekaragaman dalam rantai pertanian pangan juga dapat ditingkatkan dengan mendukung perusahaan, konsorsium, dan kluster sektor kecil dan menengah, saran FAO.

Sementara itu, faktor kunci lainnya adalah meningkatkan konektivitas jaringan pertanian pangan untuk mengatasi kemungkinan gangguan pada jalur transportasi.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here