Empat “geopark” Indonesia diakui UNESCO

Empat “geopark” Indonesia diakui UNESCO
Bongkah Chert-calcareous Red Clay yang merupakan bagian dari Kompleks Melange tampak di Sungai Luk Ulo, Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Karangsambung telah ditetapkan sebagai geopark nasional karena memiliki kekayaan geologi yang beragam. (Indonesia Window/Bambang P)

Jakarta (Indonesia Window) – Terletak di antara dua samudera, Pasifik dan Hindia, serta pada pertemuan tiga lempeng bumi besar, Eurasia, India-Australia dan Pasifik yang membentuk cincin api (ring of fire), menjadikan Indonesia kaya akan keunikan geologi.

Sementara itu, ribuan suku dengan ragam budaya yang sebagian besarnya masih tetap lestari hingga kini, menjadikan kekayaan bumi Indonesia semakin menakjubkan.

Sejumlah tempat di tanah air telah ditetapkan mejadi geopark atau taman bumi dimana keunikan bumi dan kekayaan budaya menyatu, memperlihatkan hubungan dua aspek tersebut yang membentuk kehidupan masyarakat yang harmonis.

Sejauh ini ada 15 lokasi di tanah air yang ditetapkan sebagai geopark, yakni Geopark Gunung Kaldera Toba (Sumatera Utara), Geopark Gunung Merangin (Jambi), Geopark Gunung Belitung (Bangka Belitung), Geopark Gunung Bojonegoro (Jawa Timur), Geopark Gunung Tambora (Nusa Tenggara Barat), Geopark Gunung Maros (Sulawesi Selatan), dan Geopark Raja Ampat (Papua).

Pada November 2018, delapan lokasi lain mendapat sertifikat Geopark Nasional, yaitu Geopark Silokek (Sumatera Barat), Geopark Ngarai Sianok-Maninjau (Sumatera Barat) dan Geopark Sawahlunto (Sumatera Barat), Geopark Natuna (Kepulauan Riau), Geopark Pongkor (Jawa Barat), Geopark Karangsambung-Karangbolong (Jawa Tengah), Geopark Banyuwangi (Jawa Timur), dan Geopark Meratus (Kalimantan Selatan).

Dari 15 geopark tersebut, empat diantaranya telah diakui oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya PBB (UNESCO), yakni Batur (Bali), Ciletuh-Pelabuhan Ratu (Jawa Barat), Gunung Sewu (Yogyakarta) dan Rinjani-Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Batur

Batur UNESCO Global Geopark terletak di timur laut Bali, mencakup area 370,5 km persegi, pada ketinggian 920-2152 meter di atas permukaan laut.

Taman bumi Batur terdiri atas dinding kaldera luar yang mengelilingi dinding kaldera bagian dalam, Gunung Batur dan danaunya. Sebagian besar Taman Wisata Alam Gunung Bukit Batur dan Payang merupakan kawasan hutan lindung yang termasuk dalam Geopark Global UNESCO.

Gunung Batur merupakan salah satu dari 127 gunungapi aktif di Indonesia, dan komponen penting dari cincin api Pasifik.

Kawasan Geopark Batur adalah rumah bagi 15 desa yang terletak di Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

Ekonomi masyarakat desa terutama bergantung pada pertanian dan pariwisata.

Jeruk manis Kintamani dan kopi luwak adalah produk dari daerah Batur, selain kerajinan kayu, bambu dan ukiran kayu.

Ciletuh-Pelabuhan Ratu

Ciletuh – Palabuhanratu UNESCO Global Geopark terletak di sebelah barat Kabupaten Sukabumi, Jawa barat.

Terletak di perbatasan zona aktif subduksi antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang terus menyatu 4 mm/tahun, Ciletuh-Pelabuhan Ratu memiliki keanekaragaman geologi yang langka, termasuk kompleks mélange yang dikenal sebagai formasi batuan tertua di Jawa Barat (terbentuk sekitar 23 hingga 15 juta tahun yang lalu).

Sumber mata air panas, air mancur panas, dan panas bumi di wilayah utara adalah diantara sumber daya geologi yang ditemukan di daerah tersebut.

Di Ciletuh-Pelabuhan Ratu terdapat 74 desa yang tersebar di delapan kecamatan, yakni Cisolok, Cikakak, Palabuhanratu, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Waluran, dan Surade dengan total populasi hampir 500.000 jiwa, didominasi oleh suku Sunda yang merupakan penduduk asli di wilayah pesisir.

Mereka memiliki beragam mata pencaharian yang sebagian besar pendapatan dihasilkan dari sektor perikanan karena garis pantai yang panjang dan terhubung langsung ke Samudera Hindia.

Pantai di geopark tersebut juga merupakan surge untuk berselancar, paralayang, dan arung jeram, serta kano, air terjun panjat tebing, snorkeling, menyelam, memancing, dan trekking di hutan.

Hingga kini sebagian masyarakat lokal masih mempertahankan tradisi leluhur Kasepuhan, khususnya di bidang pertanian seperti pertanian padi yang disebut tatanen.

Gunung Sewu

Terletak di Pegunungan Selatan Jawa Timur, Gunung Sewu UNESCO Global Geopark memanjang timur-barat sepanjang 120 kilometer.

Zona depresi yang ditempati oleh gunung berapi aktif Merapi dan Lawu membatasi bagian utara, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.

Pada ketinggian antara 5 meter dan 700 meter dpl, terdapat jajaran gunung batu Paleogen Atas dan ribuan bukit batu kapur.

Gunung Sewu Global Geopark UNESCO mencakup beberapa tiga provinsi, yakni Yogyakarta (Kabupaten Gunungkidul), Jawa Tengah (Kabupaten Wonogiri) dan Jawa Timur (Kabupaten Pacitan) jumlah populasi 805.000 jiwa.

Gunung Sewu juga kaya akan keanekaragaman hayati, arkeologi, sejarah, dan aspek budaya.

Budaya batu Pacitan berasal dari zaman Paleolitik hingga Neolitik di Asia Tenggara. Sekitar 1.802 km persegi dari wilayah tersebut menyimpan jejak permukiman prasejarah.

Keanekaragaman lanskap karst (batugamping), batuan, fosil serta proses geologis di Gunung Sewu dilindungi oleh Peraturan Pemerintah 2008 sebagai Kawasan Cadangan Geologi.

Rinjani-Lombok

UNESCO menyebutnya “the bridge between Asia and Australia”, atau jembatan antara Asia dan Australia.

Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara dengan bentang alam yang beragam, serta jenis hutan bervariasi mulai dari sabana dan hutan semi-gugur hingga hutan cemara pegunungan rendah dan hutan cemara pegunungan montana tropis.

Gunung berapi mendominasi geologi pulau Lombok, dimana kompleks vulkanik berkembang karena subduksi Lempeng Samudera Hindia di bawah Lempeng Asia Tenggara.

Kompleks gunung berapi tua terdiri atas Gunung Punikan dan Gunung Nangi di barat dan Gunung Sembalun di timur, sementara Gunung Rinjani menjulang di ketinggian 3.726 meter dan  menjadi puncak tertinggi di kompleks vulkanik tersebut.

Kaldera Gunung Api Samalas yang terisi kombinasi air meteorik dan hidrotermal telah membentuk sebuah danau bernama Segara Anak. Di tengah kaldera tersebut muncul kerucut gunung berapi muda, Gunung Rombongan dan Gunung Barujari.

Lombok dihuni sekitar 3.142.195 jiwa yang mencakup lima kabupaten yakni Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah dan Kota Mataram.

Sekitar 80 persen penduduk Lombok adalah bagian dari kelompok etnis Sasak, yang dekat dengan kelompok etnis Bali, dan sebagian besar Muslim, sedangkan 20 persen penduduk lainnya adalah orang Bali, Jawa, dan Arab.

Masyarakat Sasak adalah multi-etnis dan multikultural dan merupakan penggambaran akulturasi dari suatu budaya. Hindu, Budha, dan Islam telah mempengaruhi sejarah orang-orang Sasak di Lombok.

Warisan budaya Lombok tampil dalam bentuk kuil-kuil atau masjid bergaya tradisional.

Temuan arkeologis lainnya termasuk patung Buddha Awalokiteswara, nekara, dan batu nisan dengan huruf China dan Arab.

Pemukiman leluhur pra-sejarah orang-orang Sasak ditemukan wilayah pesisir dan pedalaman.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here