Tim ilmuwan China simpan gambar mural gua dalam DNA

Seorang pengunjung memotret sejumlah benda pameran di sebuah ekshibisi bertema budaya Dunhuang di Museum Istana, yang juga dikenal sebagai Kota Terlarang, di Beijing, ibu kota China, pada 17 September 2021. (Xinhua/Li Xin)

DNA sebagai media penyimpanan peninggalan-peninggalan arkeologi berharga memiliki daya tahan jangka panjang, dan biaya pemeliharaan yang rendah.

 

Beijing, China (Xinhua) – DNA, sebuah struktur alami yang berevolusi untuk mengodekan informasi biologis, dapat dimodifikasi secara artifisial menjadi ‘museum digital’ yang tahan lama dan berukuran sangat kecil.

Sebuah tim ilmuwan China mengenkripsi 10 gambar digital mural Dunhuang ke dalam 210.000 untai DNA melalui sekuens nukleotida dalam fail terkompresi berukuran 6,8 megabita (MB), dan fail itu dapat dipulihkan dengan tepat dari sampel yang rusak parah dengan diproses pada suhu 70 derajat Celsius selama 70 hari.

Kota Dunhuang di Provinsi Gansu, China barat laut, merupakan rumah bagi Gua Mogao, Situs Warisan Dunia UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yang menampung banyak koleksi karya seni Buddhis, termasuk mural dengan luas sekitar 45.000 meter persegi.

DNA sebagai media penyimpanan
Foto dari udara yang diabadikan pada 19 April 2022 ini menunjukkan Gua Mogao di Dunhuang, Provinsi Gansu, China barat laut. (Xinhua/Du Zheyu)

Penyimpanan data DNA merupakan teknologi yang sedang berkembang pesat karena memiliki densitas yang tinggi, daya tahan jangka panjang, dan biaya pemeliharaan yang rendah. Namun, kesalahan yang sering muncul dalam pengodean in vitro (proses yang dilakukan atau berlangsung dalam tabung reaksi, cawan kultur, atau di tempat lain di luar organisme hidup) masih menjadi tantangan teknis utama untuk teknologi ini.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Yuan Yingjin dari Universitas Tianjin berhasil mengembangkan algoritma penyusunan untai de novo (dari awal) dan rawan kesalahan yang memungkinkan para kurator mural untuk memperoleh data secara akurat dari solusi DNA yang diawetkan pada suhu 9,4 derajat Celsius tanpa perlindungan apa pun selama kurang lebih 20.000 tahun.

Mereka menetapkan redundansi untai di angka 7,8 persen, yang mendukung pemulihan data yang andal saat dekoder menerima lebih dari 95 persen untai DNA, menurut studi yang dipublikasikan baru-baru ini di jurnal Nature Communications.

Sebelumnya, tim Yuan merancang kromosom artifisial dari ragi yang mengodekan dua gambar dan satu klip video. Temuan studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal National Science Review pada 2021.

Terobosan terbaru ini menjadikan DNA sebagai media penyimpanan dengan memori paling kuat yang dapat membantu melindungi dan mewariskan warisan budaya, kata tim peneliti.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan