Dikecualikan dari WHO, Taiwan sukses tangani COVID-19

Dikecualikan dari WHO, Taiwan sukses tangani COVID-19
Pemerintah Taiwan menyiapkan produksi masker kesehatan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat tajam selama pandemik COVID-19. (Kantor Kepresidenan Taiwan)

Jakarta (Indonesia Window) – Pandemik virus corona atau COVID-19 memang tampak belum akan berakhir dalam waktu dekat dengan jumlah terkonfirmasi yang sejauh ini mencapai 2,5 juta jiwa dan lebih dari 177 ribu kematian.

Namun, ada kisah sukses penanganan pandemik yang ditunjukkan oleh Taiwan meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengecualikan Pulau Formosa tersebut dari penanganan wabah global karena alasan politik.

Meskipun secara geografi berada dekat dengan China, Taiwan berada di peringkat ke-123 di antara 183 negara dalam hal kasus per juta orang yang dikonfirmasi.

Hal tersebut menunjukkan keberhasilan dari upaya agresif Taiwan dalam mengendalikan wabah.

Pernyataan Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) menyebutkan, Taiwan tidak dapat berdiri sendiri dan harus dimasukkan dalam perang melawan pandemik.

Taiwan telah memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga dunia dan mematuhi Peraturan Kesehatan Internasional 2005 (IHR 2005) dalam memberi tahu WHO tentang kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, kata Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Chen Shih-chung dalam pernyataan tersebut.

Selain itu, Taiwan telah berkomunikasi dengan negara lain seperti Jepang, Republik Korea, Singapura, Malaysia, Filipina, Amerika Serikat, Kanada, Italia, Perancis, Swiss, Jerman, Inggris, Belgia, dan Belanda, serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa untuk berbagi informasi tentang kasus yang dikonfirmasi, riwayat perjalanan dan kontak pasien, serta tindakan pengendalian perbatasan.

Menurut Menteri Chen, Taiwan telah mengunggah urutan genetik COVID-19 ke Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). Taiwan telah bekerja dengan mitra global dalam menanggapi ancaman COVID-19 guna memastikan bahwa kesehatan global tidak terancam oleh kurangnya komunikasi dan transparansi.

Saling membutuhkan

Jika memang misi WHO untuk memastikan standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai bagi setiap manusia, maka organisasi tersebut membutuhkan Taiwan, sama seperti Taiwan membutuhkan WHO.

Namun Taiwan telah lama dikeluarkan dari WHO karena pertimbangan politik. Padahal Taiwan dapat berbagi dengan dunia tentang  pengalaman kesehatan masyarakat, sistem kesehatan, sistem Asuransi Kesehatan Nasional (NHI) , dan kemampuan melakukan pengujian cepat serta penelitian dan pembuatan vaksin, serta obat-obatan dalam mengangani COVID-19.

Kami juga dapat membagikan metode kami untuk menganalisis virus. Kami berharap bahwa setelah pandemic ini mereda, WHO akan benar-benar memahami bahwa penyakit menular tidak mengenal batas, dan bahwa tidak ada negara yang boleh dikecualikan, jangan sampai itu menjadi celah besar dalam keamanan kesehatan global. WHO tidak boleh mengabaikan kontribusi untuk keamanan kesehatan global dari negara mana pun, demikian kata Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Chen Shih-chung.

Dia mendesak WHO dan pihak-pihak terkait untuk mengakui kontribusi Taiwan bagi komunitas internasional di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan penyakit, dan hak asasi manusia atas Kesehatan.

Taiwan juga mendesak WHO agar memasukkan Pulau Foromosa ke dalam organisasi tersebut agar dapat berpartispasi aktif dalam pertemuan, mekanisme, dan kegiatannya.

Taiwan akan terus bekerja dengan seluruh pihak di dunia guna memastikan semua orang menikmati hak asasi manusia yang mendasar atas kesehatan seperti yang diatur dalam Konstitusi WHO.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here