Delapan dekade lalu Masjid Baitussalam Kebarongan lahir dari langgar kecil

Delapan dekade lalu Masjid Baitussalam Kebarongan lahir dari langgar kecil
Masjid Baitussalam di Desa Kebarongan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. (Indonesia Window/M. Zuhair)

Kebumen, Jawa Tengah (Indonesia Window) – Sukses besar berawal dari yang sederhana, demikian juga dengan Masjid Darussalam di Kebarongan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Masjid yang berada di depan pintu gerbang menuju Pondok Pesantren (Ponpes) Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Kebarongan tersebut mulanya berupa langar atau musholla sederhana yang didirikan oleh KH. Abdullah Zawawi sang pemimpin Ponpes dibantu seorang santrinya pada tahun 1935.

Selama berdirinya Masjid Baitussalam Kebarongan mengalami beberapa perombakan.

Masjid Baitussalam yang berlokasi di persimpangan Jalan Raya Kebarongan- Buntu (Banyumas) itu dulu bernama Masjid Baitul Muttaqin, kemudian berubah menjadi Masjid Agung Baitussalam pada 2005.

Seluruh aktivitas masjid berusi 84 tahun itu dipimpin oleh para sesepuh masyarakat setempat.

Delapan dekade lalu Masjid Baitussalam Kebarongan lahir dari langgar kecil
Masjid Baitussalam di Desa Kebarongan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. (Indonesia Window/M. Zuhair)

Jaringan Masjid

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, dia meninggalkan sembilan masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsa, Masjid Qiblatain, Masjid Al-Ijabah, Masjid Al-Jin, Masjid Syajaroh, Masjid Ja’ronah, dan Masjid Quba.

Sembilan mesjid itu adalah tempat yang membedakan antara kesyirikan dan kekufuran. Beliau bersabda “Sesungguhnya (yang membedakan) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim).

Seiring dengan menyebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia, masjid-masjid berdiri di Semenanjung Arab, kemudian bermunculan di negara-negara lainnya seiring dengan bertambahnya umat Islam yang bermukim di luar Jazirah Arab.

Mesir menjadi daerah pertama yang dikuasai oleh umat Islam padatahun 640 masehi. Sejak saat itu Kairo, ibu kota Mesir, dipenuhi dengan masjid dan dijuluki sebagai kota seribu menara.

Setelah itu, masjid bertumbuhan di berbagai negara, termasuk di negeri minoritas Muslim seperti Italia (Sisilia), Spanyol, China, India, Jerman, Inggris, Perancis,  dan Amerika Serikat.

Dalam  “jaringan” antar-masjid, Masjid Baitussalam adalah salah satu dari delapan masjid yang ada di Desa Kebarongan yakni Masjid Jami’ MWI, Masjid Al-Kholidiyah, Masjid Annur, Masjid Al-Ittihad, Masjid Al-Ma’unah, Masjid Annadzafir, Masjid Hidayatul Mubtadi’in, dan Masjid Baitussalam.

Masjid Baitussalam Kebarongan juga merupakan salah satu dari 800.000 masjid yang ada di Indonesia, dan salah satu dari hampir empat juta masjid di dunia.

Masyarakat setempat berharap Masjid Baitussalam dapat mendukung kegiatan Umat Islam, khusunya di Kebarongan dalam rangka mewujudkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat At-Taubah, ayat 18 yang artinya “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka mereka lah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk”.

Penulis: M. Zuhair AG

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here