COVID-19 – WHO: Pandemik ganggu layanan kesehatan mental seluruh dunia

COVID-19 – WHO: Pandemik ganggu layanan kesehatan mental seluruh dunia
Ilustrasi. Survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru menunjukkan bahwa pandemik COVID-19 telah mengganggu atau menghentikan layanan kesehatan mental kritis di 93 persen negara di seluruh dunia sementara kebutuhan layanan itu meningkat. (Nik Shuliahin on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru menunjukkan bahwa pandemik COVID-19 telah mengganggu atau menghentikan layanan kesehatan mental kritis di 93 persen negara di seluruh dunia sementara kebutuhan layanan itu meningkat.

“COVID-19 telah mengganggu layanan kesehatan mental di seluruh dunia tepat pada saat layanan ini sangat dibutuhkan. Para pemimpin dunia harus bergerak cepat dan tegas untuk berinvestasi lebih banyak dalam program kesehatan mental yang menyelamatkan jiwa selama pandemik dan seterusnya,” kata Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Survei terhadap 130 negara itu memberikan data global pertama yang menunjukkan dampak buruk COVID-19 pada akses ke layanan kesehatan mental dan menekankan kebutuhan mendesak untuk peningkatan pendanaan.

Survei tersebut dipublikasikan menjelang Agenda Besar WHO untuk Kesehatan Mental, yang merupakan kegiatan advokasi daring global pada 10 Oktober, mempertemukan para pemimpin dunia, selebriti, dan pendukung untuk menyerukan peningkatan investasi kesehatan mental setelah COVID-19.

WHO sebelumnya telah menyoroti kekurangan dana kronis untuk layanan kesehatan mental.

Sebelum pandemik, negara-negara di seluruh dunia membelanjakan kurang dari 2 persen dari anggaran kesehatan nasional mereka untuk kesehatan mental, dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pernyataan WHO menyebutkan, pandemik COVID-19 telah meningkatkan permintaan akan layanan kesehatan mental menyusul kesedihan, isolasi, kehilangan pendapatan dan ketakutan yang terjadi di masyarakat.

Banyak orang mungkin menghadapi peningkatan konsumsi alkohol dan obat-obatan, serta mengalami insomnia dan kecemasan.

Sedangkan COVID-19 dapat menyebabkan komplikasi neurologis dan mental, seperti delirium, agitasi, dan stroke.

Pernyataan WHO menyebutkan bahwa orang dengan gangguan mental, neurologis, atau penggunaan obat juga lebih rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Mereka mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gejala yang parah, bahkan kematian.

Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober akan menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan investasi di sektor layanan kesehatan mental yang selama ini mengalami kekurangan dana.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here