COVID-19 – Vaksin Rusia kembangkan antibodi setelah dosis pertama

COVID-19 – Vaksin Rusia kembangkan antibodi setelah dosis pertama
Ilustrasi. Relawan yang disuntik vaksin COVID-19, yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Nasional untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya Rusia, menunjukkan tingkat antibodi yang memadai setelah dosis pertama. (National Cancer Institute on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Relawan yang disuntik vaksin COVID-19, yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Nasional untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya Rusia,  menunjukkan tingkat antibodi yang memadai setelah dosis pertama, kata Direktur Gamaleya, Alexander Gintsburg, kepada Kantor Berita Sputnik pada Jumat (25/9).

“Itu semua tergantung pada respons tubuh tiap individu terhadap vaksinasi dan infeksi. Untuk beberapa relawan, tingkat perlindungan antibodi berkembang setelah vaksinasi pertama dan mereka membutuhkan dosis kedua agar perlindungan ini lebih lama. Orang yang divaksinasi akan terlindungi dalam waktu sekitar dua pekan setelah vaksinasi pertama,” jelas Gintsburg.

Ahli mikrobiologi itu melanjutkan bahwa sejauh ini tidak ada pasien yang terinfeksi antara dosis pertama dan vaksinasi kedua.

Gintsburg, bagaimanapun, mengakui kemungkinan konstan dari infeksi relawan, tetapi mengatakan skenario seperti itu hanya dapat menyebabkan gejala ringan.

“Jika infeksi terjadi saat ini, ini hanya dapat mengarah pada fakta bahwa infeksi tidak berubah menjadi morbiditas (jumlah penyakit dalam satu populasi). Jika ada gejala klinis yang muncul, mereka akan muncul dalam bentuk yang melemah,” kata Gintsburg.

Vaksin Sputnik V yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Nasional untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya sejauh ini merupakan yang terdepan dalam uji klinis dibandingkan vaksin yang dikembangkan di negara lain.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here