COVID-19 – Survei John Hopkins: 40 persen lansia Indonesia tak mau divaksin

COVID-19 – Survei John Hopkins: 40 persen lansia Indonesia tak mau divaksin
Kementerian Kesehatan menyediakan layanan vaksinasi drive thru atau lantatur (layanan tanpa turun) bagi masyarakat lanjut usia (lansia). (Sekretariat Kabinet RI)

Jakarta (Indonesia Window) – Sebanyak 40 persen penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mengaku tidak ingin mendapatkan vaksin melawan COVID-19, kata Direktur Ilmu Komunikasi dan Penelitian dari Johns Hopkins Center for Communication Programs, Douglas Storey.

“Pada kelompok lansia di atas 55 tahun masih terdapat 40 persen yang melaporkan kemungkinan tidak akan divaksin,” kata Storey dalam webinar Urgensi Percepatan Vaksinasi Kelompok Rentan, Antisipasi Gelombang Ketiga COVID-19 yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Data tersebut dikumpulkan oleh Johns Hopkins Center bersama sejumlah pihak seperti Maryland University dan Carnegie Mellon University, setelah melakukan survei yang telah disesuaikan dengan usia, sejak bulan Mei hingga September 2021 kepada para pengguna Facebook secara acak.

Storey menjelaskan, dari data yang didapatkan, sebanyak 44 persen lansia mengaku takut akan efek samping vaksin yang diberikan, sedangkan 37 persen menunggu apakah vaksin tersebut aman untuk digunakan.

Alasan lain masih banyaknya penduduk lansia yang takut divaksinasi adalah tidak mengetahui bagaimana cara kerja vaksin, tidak menyukai vaksin, dan banyak dari mereka ingin mendahulukan orang lain yang lebih muda dan membutuhkan untuk mendapatkan vaksin.

Melihat banyaknya jumlah penduduk lansia yang masih takut untuk melakukan vaksinasi, Storey menyarankan pemerintah untuk lebih menggalakkan sosialisasi mengenai vaksin COVID-19 melalui testimoni atau pengakuan masyarakat yang telah memperoleh vaksinasi.

Menurut dia, Pemerintah Indonesia lebih banyak memberikan informasi menyangkut hal teknis seperti efek samping vaksi, dibanding cara kerja vaksin dan bukti bahwa vaksin secara efektif dapat mencegah penyakit lain.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here