COVID-19 – Studi: Vitamin D hentikan peradangan paru pada pasien

COVID-19 – Studi: Vitamin D hentikan peradangan paru pada pasien
Ilustrasi. (oracast on Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Sebuah bentuk khusus dari vitamin D mungkin dapat memerangi peradangan paru-paru pada pasien terinfeksi COVID-19, menurut sebuah penelitian baru-baru ini.

Studi tersebut menunjukkan bahwa vitamin D memiliki mekanisme ‘mematikan’ peradangan, yang dapat bekerja pada kasus COVID-19 dengan gejala parah.

Namun, uji klinis diperlukan sebelum vitamin D diadopsi untuk mengobati COVID-19 atau penyakit pernapasan lainnya.

Para peneliti memperingatkan orang-orang yang mengonsumsi lebih dari jumlah vitamin D yang disarankan dengan harapan dapat mencegah infeksi COVID-19.

Para ilmuwan berbagi wawasan tentang bagaimana vitamin D dapat membantu dalam kasus COVID-19 yang parah dengan mengungkapkan bagaimana vitamin berfungsi untuk mengurangi peradangan yang disebabkan oleh sel-sel kekebalan.

Sebuah studi bersama oleh Purdue University dan Institut Kesehatan Nasional (NIH) Amerika Serikat menunjukkan bagaimana metabolit aktif vitamin D (bukan bentuk yang dijual bebas) terlibat dalam upaya ‘mematikan’ peradangan dalam tubuh selama infeksi, seperti pada kasus COVID-19.

“Karena peradangan pada kasus Covid-19 yang parah adalah alasan utama morbiditas (menderita sakit) dan mortalitas (kematian), kami memutuskan untuk melihat lebih dekat sel paru-paru dari pasien Covid-19,” kata penulis utama Dr. Behdad (Ben) Afzali, kepala Bagian Imunoregulasi dari Institut Nasional Diabetes dan Penyakit Pencernaan dan Ginjal NIH, dan Dr. Majid Kazemian, asisten profesor biokimia dan ilmu komputer di Purdue University.

Sebagai bagian dari penelitian, para peneliti menganalisis sel paru-paru individu dari delapan pasien COVID-19.

Mereka menemukan bahwa di dalam sel-sel ini, bagian dari respons imun terhadap SARS-CoV-2, mengalami overdrive (bekerja secara berlebihan) dan memperburuk peradangan di paru-paru.

Setelah pemberian vitamin D dalam percobaan tabung reaksi, mereka mengamati pengurangan peradangan sel paru-paru. Mereka kemudian meneliti lebih jauh bagaimana hal ini bisa terbentuk.

Mereka melakukan ini dengan beralih ke sel T helper (juga dikenal sebagai sel CD4+) yang merupakan jenis sel kekebalan yang merangsang sel T killer (pembunuh) dan sel darah putih lainnya untuk meningkatkan respons kekebalan.

Sel T diketahui berperan dalam kasus COVID-19 yang parah dan berbahaya dengan melakukan overdrive dan menyebabkan fenomena fatal yang dikenal sebagai badai sitokin.

Sumber: pakobserver.net

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here