COVID-19 – Protes terhadap pembatasan di Belgia jadi kekerasan

COVID-19 – Protes terhadap pembatasan di Belgia jadi kekerasan
Ilustrasi. (niekverlaan on Pixabay)

Bekasi, Jawa Barat (Indonesia Window) – Polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air pada Ahad (5/12) untuk membubarkan pengunjuk rasa yang melempari petugas dengan batu dan kembang api ketika demonstrasi di Brussels atas pembatasan COVID-19 yang diberlakukan pemerintah berubah menjadi kekerasan.

Ribuan pengunjuk rasa berbaris damai melalui pusat ibu kota Belgia ke lingkungan yang menjadi tuan rumah markas besar lembaga-lembaga Uni Eropa.

Di kawasan Uni Eropa sekelompok pengunjuk rasa yang mengenakan kerudung hitam dan meneriakkan “liberte” (kebebasan) mulai melemparkan batu ke arah polisi, yang bereaksi dengan gas air mata dan meriam air, menurut rekaman dan laporan dari wartawan Reuters yang hadir.

Para demonstran memprotes aturan yang diberlakukan pada Oktober yang mewajibkan orang untuk menunjukkan izin COVID-19 saat mengakses bar dan restoran.

“Saya tidak bisa menanggung diskriminasi dalam bentuk apa pun, dan sekarang ada izin vaksin yang diskriminatif, sanksi untuk pengasuh (yang tidak divaksinasi) yang diskriminatif juga, ada vaksinasi wajib yang sedang menuju ke arah kami,” ujar salah satu pengunjuk rasa, guru seni bela diri, Alain Sienaort.

“Itu semua diskriminasi, jadi kami harus melawannya. Kami tidak menginginkan kediktatoran,” imbuhnya.

Protes tersebut mengikuti langkah-langkah baru yang diumumkan pada Jumat pekan lalu untuk mengekang salah satu tingkat infeksi tertinggi di Eropa, termasuk wajib mengenakan masker untuk sebagian besar anak sekolah dasar dan perpanjangan liburan sekolah.

Pada akhir November, sejumlah besar demonstran bentrok dengan polisi di Brussel, menyebabkan puluhan penangkapan, cedera di antara petugas polisi dan kerusakan properti yang meluas.

Sumber: Reuters

Laporan: Raihana Radhwa

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here