COVID-19 – Peneliti Taiwan teliti kemungkinan pengobatan

COVID-19 – Peneliti Taiwan teliti kemungkinan pengobatan
Ilustrasi. (Volodymyr Hryshchenko on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Para peneliti Taiwan telah menemukan bahwa menggabungkan obat yang ada dengan obat COVID-19 remdesivir dapat menekan kemampuan virus untuk bereplikasi, dan dengan demikian dapat menjadi pengobatan baru yang memungkinkan untuk infeksi virus corona, menurut Kantor Berita CNA yang dikutip pada Selasa.

Lee Shiow-ju, seorang peneliti di Institut Penelitian Bioteknologi dan Farmasi di Institut Penelitian Kesehatan Nasional, mengatakan remdesivir pernah dipertimbangkan sebagai obat yang menjanjikan untuk COVID-19, namun tak pernah terbukti.

Saat ini, para dokter Taiwan hanya menggunakan remdesivir untuk merawat pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit yang membutuhkan terapi oksigen dan pasien yang menggunakan ventilasi non-invasif, kata Lee.

Sementara itu, para peneliti di Taiwan telah mencoba memanfaatkan obat-obatan yang ada karena profil keamanannya diketahui dapat mempercepat penemuan pengobatan COVID-19 yang efektif dan aman.

Setelah menyaring 230 obat resep yang dicakup oleh sistem asuransi kesehatan nasional, Lee mengatakan siklosporin, imunosupresan yang banyak digunakan untuk mencegah penolakan transplantasi organ, ditemukan oleh timnya secara signifikan mengurangi infeksi oleh virus corona.

Siklosporin menekan aktivitas sistem kekebalan dengan menghambat aktivitas dan pertumbuhan sel T dan produksi interleukin-6 (IL-6), yakni zat dalam tubuh yang menyebabkan peradangan, jelas Lee.

Secara khusus, IL-6 telah dilihat sebagai penanda inflamasi untuk infeksi COVID-19 yang parah melalui produksi sitokinnya, yaitu protein kecil yang mengontrol aktivitas sel sistem kekebalan lainnya.

Peningkatan sitokin yang tiba-tiba, yang dikenal sebagai badai sitokin, dapat menyebabkan sindrom peradangan serius, dan telah dikaitkan dengan kasus COVID-19 yang serius. Siklosporin menghambat produksi sitokin tersebut.

Siklosporin telah tersedia di pasar selama bertahun-tahun, membuatnya sangat mudah diakses secara lokal tanpa perlu mengimpor obat dari luar negeri, kata Lee.

Selain itu, timnya telah menemukan dalam simulasi menggunakan garis sel (sel yang ditumbuhkan dan kemudian digunakan untuk menguji calon obat) bahwa kombinasi siklosporin dan remdesivir lebih efektif dalam menghambat replikasi virus corona daripada ketika obat digunakan secara terpisah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kombinasi kedua obat tersebut layak dipelajari lebih lanjut sebagai pengobatan yang mungkin untuk COVID-19, katanya.

Tindak lanjut uji klinis perlu dilakukan guna membuktikan temuan awal, ujar Lee.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here