COVID-19 – Indonesia dorong diversifikasi produksi vaksin ke negara berkembang

COVID-19 – Indonesia dorong diversifikasi produksi vaksin ke negara berkembang
Konferensi internasional bertajuk 'The First Meeting of the International Forum on Covid-19 Vaccine Cooperation' yang diselenggarakan secara virtual pada Kamis (5/8). (Kementerian Luar Negeri RI)

Jakarta (Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mendorong diversifikasi vaksin melawan COVID-19 ke negera-negara berkembang.

Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada konferensi internasional bertajuk The First Meeting of the International Forum on Covid-19 Vaccine Cooperation yang diselenggarakan secara virtual pada Kamis (5/8).

“Kita harus mendorong solidaritas dan kerja sama internasional untuk mempercepat vaksinasi global, salah satunya melalui peningkatan kapasitas produksi vaksin. Hal ini dapat dicapai salah satunya melalui diversifikasi produksi vaksin ke negara berkembang,” ujar Menlu RI.

Menlu Retno juga menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk membantu negara berkembang menguatkan infrastruktur esensial, pusat penelitian, jalur produksi, fasilitas cold storage (penyimpanan suhu dingin), dan sumber daya manusia.

Kolaborasi internasional juga harus dapat memfasilitasi akses ke bahan baku, pembebasan HKI (Hak Kekayaan Intelektual), transfer teknologi, termasuk vaksin mRNA serta skema pembiayaan yang sehat.

Menlu RI yang juga co-chair COVAX AMC-EG (Advance Market Commitment-Engagement Group) menyampaikan pentingnya dukungan global untuk mekanisme COVAX, sebagai satu-satunya platform global yang menjamin kesetaraan akses vaksin COVID-19 bagi semua negara.

Selain itu, COVAX juga perlu segera mengeksplorasi alokasi vaksin untuk 20 persen populasi, khususnya mereka yang berada di negara berpenghasilan rendah.

Partisipasi Menlu RI dalam konferensi tersebut merupakan upaya diplomasi Indonesia dalam mendorong semua negara untuk mempererat solidaritas dan kolaborasi dalam menanggulangi pandemik, termasuk menjadikan vaksin sebagai barang publik global sehingga dapat diakses dan didistribusikan ke semua negara secara setara.

Konferensi tersebut diikuti oleh Sekretaris Jenderal PBB, Direktur Jenderal WHO, Menteri Luar Negeri dan Pejabat Tinggi lebih dari 23 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika, serta perwakilan organisasi internasional dan lembaga riset nasional dari sejumlah negara.

Konferensi itu menghasilkan dokumen berupa Joint Statement of the International Forum on Covid-19 Vaccine Cooperation.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here