COVID-19 – Ilmuwan Rusia umumkan hasil uji klinis Avifavir mampu tekan virus

COVID-19 - Ilmuwan Rusia umumkan hasil uji klinis Avifavir mampu tekan virus
Ilustrasi. Tim kesehatan Rusia mengungkapkan hasil uji coba tahap dua dan tiga dari uji klinis Avifavir, obat berbasis favipiravir domestik yang mampu menekan virus corona. (Photo by Halacious on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Tim kesehatan Rusia mengungkapkan hasil uji coba tahap dua dan tiga dari uji klinis Avifavir, obat berbasis favipiravir domestik yang mampu menekan virus corona.

Obat tersebut mampu mempercepat penghapusan virus corona dari tubuh pada lebih dari setengah pasien dan tidak menyebabkan efek samping yang serius, tulis para ilmuwan dalam artikel mereka yang diterbitkan di perpustakaan elektronik medRxiv, menurut laporan Kantor Berita TASS.

“Bagian percontohan dari uji klinis acak dan terbuka kami menunjukkan bahwa Avifavir memiliki tindakan antivirus yang cepat, dengan menghilangkan virus dalam empat hari pada 62,5 persen pasien. Kami akan segera mempelajari bagaimana dosis yang berbeda mempengaruhi tingkat pemulihan,” tulis para peneliti.

Sejauh ini para peneliti Rusia berhasil memilih hanya beberapa obat yang mampu mempengaruhi virus SARS-CoV-2, termasuk favipiravir, remdesivir, dan protein interferon-2-alpha rekombinan.

Semua obat tersebut dibuat untuk melawan virus flu, hepatitis C, dan virus Ebola, dan telah dibuktikan dalam berbagai percobaan laboratorium berpeluang melawan virus corona.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut tidak membantu semua pasien dan tidak mampu mencegah penyebaran infeksi virus corona atau menekan bentuk infeksi yang ringan, sehingga tidak mungkin digunakan dalam mengendalikan dan mencegah COVID-19.

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Andrey Ivashchenko, seorang peneliti dari grup perusahaan ChemRar, telah melakukan uji praktis pertama tentang efektivitas dan keamanan Avifavir, yakni analog Rusia dari obat flu favipiravir yang dikembangkan di Jepang.

Hasil awal

Pada akhir Mei, Avifavir menerima sertifikat pendaftaran Kementerian Kesehatan Rusia, dan pada 3 Juni obat tersebut dimasukkan dalam daftar pedoman pencegahan, diagnostik, dan pengobatan infeksi virus corona baru.

Obat berbasis favipiravir belum digunakan di negara lain karena belum melewati uji klinis.

Seperti yang ditulis para peneliti, enam puluh relawan yang terinfeksi virus corona dan menderita pneumonia dengan gejala COVID-19 lainnya berpartisipasi dalam uji klinis zat ini di Rusia.

Mereka dibagi dalam tiga kelompok, satu di antaranya menerima plasebo (obat kosong yang tidak mengandung zat aktif dan tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap kesehatan), sementara dua lainnya diberikan dua dosis Avifavir yang berbeda.

Secara bersamaan semua pasien menggunakan antikoagulan (obat yang berfungsi mencegah penggumpalan darah), antibiotik, dan obat lain untuk mengurangi gejala infeksi virus corona.

Pengamatan selanjutnya terhadap kesehatan mereka menunjukkan bahwa pada hari keempat pengobatan, virus menghilang pada sekitar 62,5 persen pasien.

Sementara itu, pada kelompok kontrol hal tersebut terjadi pada 30 persen kasus.

Pada hari kesepuluh perawatan, jejak SARS-CoV-2 tidak ditemukan pada 90 persen relawan yang diobati dan 80 persen dari kelompok plasebo.

Perubahan positif yang serupa juga terlihat pada suhu tubuh dan pencitraan paru sectional tanpa efek samping yang serius dalam semua kasus, dengan pengecualian mual dan pusing yang juga merupakan karakteristik dari favipiravir.

Hasil pengamatan uji coba pertama ini, sebagaimana dicatat oleh para peneliti, akan membantu mereka dalam melakukan uji klinis lengkap dengan cepat dan efisien.

Uji tersebut, seperti yang mereka harapkan, akan memastikan keefektifan dan keamanan obat, serta membuka jalan untuk penggunaan praktisnya.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here