COVID-19 – Plasma 16 persen pasien terinfeksi efektif ditransfusikan ke pasien lain

COVID-19 – Plasma 16 persen pasien terinfeksi efektif ditransfusikan ke pasien lain
Ilustrasi. Studi bersama para peneliti Rusia dan Jerman menunjukkan bahwa plasma dari hanya 16 persen donor yang telah terinfeksi virus corona memiliki antibodi penawar yang dapat meringankan jalannya infeksi COVID-19 jika ditransfusikan ke pasien dengan diagnosis ini. (Prasesh Shiwakoti (Lomash) on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Studi bersama para peneliti Rusia dan Jerman menunjukkan bahwa plasma dari hanya 16 persen donor yang telah terinfeksi virus corona memiliki antibodi penawar yang dapat meringankan jalannya infeksi COVID-19 jika ditransfusikan ke pasien dengan diagnosis ini.

Hal tersebut disampaikan oleh kata Wakil Direktur Institut Penelitian Ilmiah Phisiopulmonologi (berkaitan dengan sistem pernapasan) St. Petersburg, Evgeny Sokolovich, pada Kantor Berita TASS pada Kamis (10/9).

“Ada suatu bentuk antibodi penetral yang bisa membantu meringankan perjalanan penyakit atau menyembuhkannya sepenuhnya. Ternyata dari donor yang berhasil kami periksa, di dua laboratorium tempat penentuan antibodi penetral itu dilakukan, satu laboratorium Jerman di Dresden dan yang lainnya milik Institut Influenza, hanya 16 persen pasien memiliki titer antibodi penetral yang akan memungkinkan untuk mengatasi, meringankan perjalanan penyakit ini,” jelasnya.

Sokolovich menambahkan bahwa hasil akhir studi diharapkan keluar pada akhir tahun ini.

Dia juga menjelaskan bahwa untuk studi ini telah dibuat konsorsium yang terdiri atas Universitas Negeri St. Petersburg, Institut Penelitian Influenza Smorodintsev, Institut Penelitian Ilmiah Phisiopulmonologi, bank darah St. Petersburg, beberapa rumah sakit St. Petersburg, dan institusi Jerman.

Transfusi plasma darah donor COVREC (plasma dengan antibodi terhadap infeksi COVID-19) diyakini merupakan salah satu metode paling efektif untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus corona jika tidak ada vaksin.

Metode ini banyak digunakan di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Jerman dan China.

Namun, pada 9 September, dilaporkan bahwa perpustakaan ilmiah elektronik medRxiv telah menerbitkan hasil awal uji klinis transfusi plasma dari mantan pasien virus corona yang menunjukkan bahwa prosedur tersebut rata-rata hampir tidak memengaruhi tingkat keparahan dan durasi penyakit.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here