COVID-19 – Ilmuwan Rusia publikasikan hasil uji klinis vaksin Sputnik V

COVID-19 – Ilmuwan Rusia publikasikan hasil uji klinis vaksin Sputnik V
Ilustrasi. Sejumlah ilmuwan Rusia mempresentasikan hasil awal dari dua fase pertama uji klinis terhadap dua bentuk berbeda vaksin Sputnik V pada 76 relawan. Hasil tersebut menegaskan bahwa kedua bentuk vaksin itu aman bagi manusia dan merangsang sistem kekebalan para relawan untuk mengembangkan antibodi terhadap SARS-CoV- 2. (National Cancer Institute on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan Rusia mempresentasikan hasil awal dari dua fase pertama uji klinis terhadap dua bentuk berbeda vaksin Sputnik V pada 76 relawan, menurut laporan Kantor Berita TASS.

Hasil tersebut menegaskan bahwa kedua bentuk vaksin itu aman bagi manusia dan merangsang sistem kekebalan para relawan untuk mengembangkan antibodi terhadap SARS-CoV- 2.

“Data ini secara kolektif menunjukkan bahwa vaksin heterolog berdasarkan rAd26-S dan rAd5-S aman, dapat ditoleransi dengan baik, dan tidak menyebabkan efek samping yang serius pada relawan dewasa yang sehat. Vaksin ini sangat imunogenik dan menginduksi respon imun humoral dan seluler yang kuat pada 100 persen relawan dewasa yang sehat, dengan titer (satuan konsentrasi) antibodi pada peserta yang divaksinasi lebih tinggi dari pada mereka yang berada dalam plasma pemulihan,” tulis para peneliti.

Pada 11 Agustus lalu, Rusia menjadi negara pertama di dunia yang mendaftarkan vaksin virus corona yang diberi nama Sputnik V.

Persiapannya dikembangkan oleh Pusat Penelitian Nasional Gamaleya, dan lolos uji klinis pada Juni – Juli.

Pada 15 Agustus, Kementerian Kesehatan Rusia mengumumkan peluncuran produksi vaksin tersebut.

Tahap ketiga pasca-pendaftaran uji klinis vaksin dimulai pada 25 Agustus.

Vaksin Rusia terdiri atas dua komponen berdasarkan dua strain adenovirus (kelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi pada mata, usus, paru, dan saluran pernapasan) yang berbeda, ryakni Ad26-S dan rAd5-S.

Para peneliti melemahkan patogen tersebut dan memodifikasi genomnya sedemikian rupa sehingga mereka mengirimkan fragmen RNA virus corona ke sel manusia, memaksa mereka untuk menghasilkan sejumlah besar protein membrannya.

Molekul-molekul tersebut menyusup ke sel kekebalan sehingga menghasilkan antibodi terhadap SARS-CoV-2.

Hasil studi tersebut dipublikasikan di jurnal Lancet.

Pukulan ganda

Salah satu penulis artikel, Denis Logunov, menerangkan, untuk membentuk respon imun yang kuat terhadap SARS-CoV-2, vaksinasi booster (dosis vaksin ekstra) penting disediakan.

“Namun, vaksinasi booster yang menggunakan vektor adenovirus yang sama mungkin tidak menghasilkan respon yang efektif karena sistem imun dapat mengenali dan menyerang vektor tersebut. Untuk vaksin kami, kami menggunakan dua vektor adenovirus yang berbeda dalam upaya untuk menghindari sistem kekebalan menjadi kebal terhadap vektor,” kata Logunov yang juga merupakan Wakil Direktur Riset di Pusat Penelitian Nasional untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya

Menurut para peneliti, uji klinis vaksin dilakukan dengan menggunakan dua varian Sputnik V.

Beberapa relawan menerima suntikan kultur rAd26-S dan rAd5-S yang disimpan dalam bentuk beku dan yang lainnya divaksinasi dengan bentuk beku kering.

Suntikan penguat diberikan kira-kira lima hari setelah suntikan pertama. Vaksin beku diuji di salah satu cabang Rumah Sakit Militer Burdenko, sedangkan yang kering beku diuji di klinik Universitas Sechenov.

Seperti yang ditunjukkan oleh pengamatan berikutnya, baik adenovirus maupun formulasi vaksin sama-sama aman bagi para relawan.

Vaksin-vaksin itu menimbulkan sejumlah efek samping ringan, seperti nyeri di tempat suntikan atau suhu tubuh yang tinggi. Namun, selama 42 hari percobaan, para peneliti tidak menemukan komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa.

Secara keseluruhan, kedua formulasi vaksin ternyata kurang lebih sama efektifnya, menyebabkan semua relawan mengembangkan antibodi terhadap virus corona dan mengajari sel-T untuk mengenali ancaman ini.

Sel-T adalah jenis sel darah putih yang merupakan faktor penting bagi sistem kekebalan dan merupakan inti dari kekebalan adaptif, sistem yang menyesuaikan respons kekebalan tubuh terhadap patogen tertentu.

Menurut para ilmuwan, dosis penguat telah meningkatkan keefektifan vaksin Sputnik V secara signifikan, karena setelah injeksi tunggal, antibodi berkembang hanya pada 60 persen relawan.

Para peneliti berharap vaksin yang mereka kembangkan akan sama suksesnya selama uji klinis skala besar yang disetujui pada 26 Agustus.

Lebih dari 40.000 relawan dari semua kelompok umur akan berpartisipasi di dalam uji tersebut.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here