Cobaanku di Gontor putri

Cobaanku di Gontor putri
Ilustrasi. (NeONBRAND on Unsplash)

Menyekolahkan anaknya di pondok pesantren Gontor adalah cita-cita orangtuaku sejak aku masih bayi. Katanya, mereka ingin aku mendapatkan pendidikan agama lebih dalam agar menjadi diri yang lebih baik.

Belasan tahun kemudian harapan itu terwujud.

Aku kini mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri di Ngawi, Jawa Timur.

Orangtuaku sering menyebut pepatah, “menuntut ilmu di masa kanak-kanak ibarat mengukir di atas batu, menuntut ilmu saat dewasa ibarat mengukir di atas air.” Artinya, kalau sudah tua baru belajar agama, maka ilmuya akan cepat hilang.

Meskipun mondok di Gontor bisa jadi salah satu kebanggaan orangtuaku, sebenarnya awalnya aku merasa sedih. Sebab, kawan-kawanku lebih banyak melanjutkan sekolah ke SMP negeri.

Aku pun diajak juga, tapi aku lebih pilih pondok demi kebahagian keluarga.

Keluargaku banyak yang lulusan Gontor, jadi aku sudah sering dengar cerita tentang mereka.

Pada bulan Mei 2020, aku berangkat ke Gontor tanpa diantar orangtua.

Sebelum benar-benar jadi santri, aku harus jadi capel (calon pelajar) dulu selama 10 hari di Gontor Putri 1.

Awalnya aku sering menangis karena tidak kenal siapa-siapa, sebab aku tidak ikut program bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh pondok.

Aku ingin sekali pulang ke rumah karena tak betah dan sangat rindu pada orangtua.

Namun lama-lama, aku betah juga akhirnya, karena mulai punya banyak teman baru dari seluruh daerah di Indonesia.

Setelah 10 hari menjadi capel, ada pengumuman kelulusan.

Salah satu temanku ada yang lulus dan masuk di GP (Gontor Putri) 8 Lampung. Sedih juga berpisah dari dia, karena kami baru saja saling kenal, tapi harus berpisah.

Selama 10 hari itu, aku terharu, sekaligus merasa seru. Alhamdulillah … perjuanganku selama jadi capel tidak sia-sia.

Aku bersyukur bisa jadi salah satu yang lulus dari ribuan capel yang sama-sama berjuang.

Banyak kawan-kawanku yang tidak lulus dan akhirnya masuk pondok pesantren lain. Ada juga yang tidak betah di Gontor dan mengundurkan diri, padahal sudah lulus.

Tapi ternyata perjuanganku belum selesai sampai di kelulusan jadi santri.

Selama di pondok, banyak sekali cobaan yang aku alami.

Salah satunya pada saat aku jatuh sakit. Inilah saat yang paling susah bagiku karena tak ada orangtua yang menjaga.

Saat sakit, aku berobat di BKSM (Balai Kesehatan Santri Masyarakat ). Ini semacam klinik khusus untuk santri yang sakit.  Di sini banyak yang berobat dengan penyakit yang bermacam-macam.

Suasananya jadi membuat diriku ingat rumah dan orangtua.

Salah satu temanku yang bertugas jadi DWW (Day Watch Woman), yang tugasnya menjaga rayon selama 24 jam, mengantarkanku ke BKSM.

Pada saat itu aku ditanya oleh petugasnya.

“Sakit apa?”

“Demam, ustadzah,” jawabku.

Lalu beliau menebak, “Mungkin karena kecapean atau kurang makan banyak.”

Aku pikir, mungkin bisa jadi itu penyebabnya karena aku kurang suka makan yang pedes-pedes.

Selain itu, di pondok banyak kegiatan. Ada pramuka dan macam-macam lomba.

Setiap hari aku harus bangun jam 03.00 pagi, lalu mandi dan sholat shubuh di masjid. Kemudian, jam 07.00 pagi belajar sampai malam.

Di BKSM aku hanya bisa berbaring di kasur, sembari berdoa dan berdzikir supaya penyakitku segera Allah hilangkan. Aku melakukannya sambil menangis karena biasanya ayah dan ibuku yang merawatku.

Selama sakit, aku lebih banyak berdoa dibanding sebelumnya.

Aku pikir, Allah ﷻ memberi kita penyakit karena DIA mau kita rehat.

Mungkin kita juga banyak berbuat salah, dan sakit itulah yang menggugurkan dosa-dosa kita.

Jadi sabar aja kalau diberi penyakit ya, friends!

“Barang siapa bersabar, akan beruntung.” Patutlah kita mencontohkan mahfudzot (kata-kata mutiara) ini.

Jika kita bersabar dalam menghadapi suatu cobaan, maka akan ada kebaikan yang datang kepada kita.

Saat sakit aku merasa jadi lebih ikhlas, dan semakin sadar untuk selalu menjaga kesehatan.

Aku juga jadi teringat orangtua yang selalu berusaha menjaga dan melindungiku.

Aku pikir, sakitku ini tidak sebanding dengan yang dialami Nabi Ayyub ‘alaihissalam.

Ujian Nabi Ayyub banyak betul dan bertubi-tubi datangnya. Dia diuji dengan kehilangan anaknya, kemudian harta bendanya.

Nabi Ayyub juga menderita karena penyakit kulit yang menular, sampai diusir oleh orang-orang di sekelilingnya. Delapan belas tahun Nabi Ayyub harus menanggung kesengsaraan ini, tapi dia tetap bersabar.

Akhirnya Allah ﷻ menghilangkan penyakit dari tubuhnya.

Sementara itu, sakitku hanya 1-2 hari. Ini sama sekali nggak ada apa-apanya dengan yang dirasakan oleh Nabi Ayyub ‘alaihissalam.

“Di tengah laut ada mercusuar. Hilangnya penyakit karena bersabar.”

Penulis: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim [santri kelas 2 reguler di Pondok Modern Gontor Putri, Ngawi; penulis buku ASGIT 1 dan ASGIT 2 (novel bergambar) dan buku puisi-pantun berjudul “Sia-sia Saja Air Matamu”]

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here