China bergabung dalam perlombaan rudal baru, bersaing dengan AS dan Rusia

China bergabung dalam perlombaan rudal baru, bersaing dengan AS dan Rusia
Ilustrasi. ( Maciej Ruminkiewicz on Unsplash)

Bekasi, Jawa Barat (Indonesia Window) – China dilaporkan menguji kendaraan luncur hipersonik berkemampuan nuklir dari lintasan dekat orbit pada Agustus, di tengah perlombaan intensif untuk generasi berikutnya dari senjata jarak jauh yang lebih sulit dideteksi dan dicegat, menurut laporan Reuters.

Amerika Serikat dan Rusia telah melakukan uji senjata hipersonik dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, Korea Utara mengatakan bulan lalu pihaknya telah menguji rudal hipersonik yang baru dikembangkan.

Rudal hipersonik bergerak sekitar 6.200 kilometer per jam. Ini lebih lambat dari rudal balistik antarbenua, namun bentuk kendaraan luncur hipersonik memungkinkannya bermanuver menuju target atau menjauh dari pertahanan.

Menggabungkan kendaraan luncur dengan rudal yang dapat meluncurkannya sebagian ke orbit dapat melucuti waktu reaksi musuh dan mekanisme pertahanan tradisional.

Financial Times melaporkan pada hari Sabtu (16/10) bahwa China telah meluncurkan roket yang membawa kendaraan luncur hipersonik yang terbang melalui ruang angkasa, mengelilingi dunia sebelum meluncur ke bawah menuju sasarannya, yang meleset sekitar 24 mil.

Pada bulan Juli, Rusia berhasil menguji rudal jelajah hipersonik Tsirkon (Zirkon), yang oleh Presiden Vladimir Putin disebut-sebut sebagai bagian dari sistem rudal generasi baru. Moskow juga menguji senjata dari kapal selam untuk pertama kalinya.

Amerika Serikat mengatakan pada akhir September bahwa mereka telah menandai uji coba pertama yang berhasil dari kelas senjata itu sejak 2013.

Beberapa hari setelah pengumuman AS, Korea Utara menembakkan rudal hipersonik yang baru dikembangkan, menyebutnya sebagai “senjata strategis” yang meningkatkan kemampuan pertahanannya, meskipun beberapa analis Korea Selatan menggambarkan uji tersebut sebagai kegagalan.

Tes baru-baru ini adalah langkah dalam perlombaan senjata berbahaya di mana negara-negara Asia yang lebih kecil berusaha untuk mengembangkan rudal jarak jauh yang canggih, di samping meningkatkan kekuatan militer utama.

Senjata hipersonik, dan FOBS (Fractional Orbital Bombardment System) atau sistem pengiriman senjata nuklir yang dikembangkan pada 1960-an oleh Uni Soviet, bisa menjadi perhatian karena berpotensi menghindari perisai rudal dan sistem peringatan dini.

“China sudah memiliki kurang lebih 100 ICBM (rudal balistik antarbenua) bersenjata nuklir yang dapat menyerang AS,” kata Jeffrey Lewis, spesialis rudal di Pusat Studi Nonproliferasi James Martin yang berbasis di AS.

Laporan: Raihana Radhwa

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here