
Bukan pemanis buatan! Gula langka rendah kalori ini berasal dari tebu dan bakteri

Ilustrasi. (Elena Leya on Unsplash)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti mengembangkan cara yang hemat biaya untuk memproduksi ‘gula langka’ (rare sugars) rendah kalori menggunakan bakteri hasil rekayasa genetika, yang berpotensi membuka jalan bagi bahan pemanis yang lebih sehat untuk makanan dan minuman.
Gula langka rendah kalori dengan rasa yang mirip dengan gula pasir mungkin akan segera muncul di rak-rak produk makanan di pasar swalayan, demikian menurut pernyataan dari Universitas Queensland (University of Queensland/UQ) yang dirilis pada Rabu (17/6).
Gula langka menawarkan rasa manis, tekstur, dan respons terhadap pemanggangan (baking properties) yang sama seperti gula konvensional, tetapi memiliki kalori yang lebih sedikit. Namun demikian, biaya produksinya yang tinggi membatasi penggunaannya secara luas, kata Axayacatl Gonzalez, manajer fasilitas studio desain sel di Institut Bioteknologi dan Nanoteknologi Australia UQ.
"Gula langka ini terdapat di beberapa buah, dan semakin banyak dicari sebagai pemanis alternatif untuk makanan dan minuman oleh industri perhotelan dan makanan komersial," kata Gonzalez, yang memimpin proyek ini bersama mitra industrinya, MSF Sugar.
Kalangan pakar biologi sintetis dan engineer bioproses di Biosustainability Hub UQ menggunakan fermentasi untuk mengubah gula tebu menjadi gula langka melalui "pabrik sel mikroba," merekayasa bakteri dari ladang tebu lokal untuk menghasilkan senyawa bernilai tinggi tersebut.
"Begitu kita memiliki galur bakteri yang tepat ... gula mentah masuk, dan gula langka keluar," kata Zhong Qifeng, ilmuwan penelitian dan pengembangan akselerator makanan dan minuman yang merekayasa bakteri untuk menghasilkan gula langka dari sirup tebu.
Australia, negara pengekspor gula utama di dunia, dapat memperoleh manfaat ekonomi dari diversifikasi ke produksi gula langka, kata perwakilan industri. Inisiatif ini didukung oleh pendanaan infrastruktur penelitian nasional Australia dan bertujuan untuk meningkatkan solusi hayati baru.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Seberapa bahaya mikroplastik dalam otak manusia?
Indonesia
•
03 Sep 2025

Algoritma berbasis AI bantu temukan lima planet kecil dengan periode orbit ultrasingkat
Indonesia
•
15 Oct 2024

Mendarat miring, baterai wahana pendarat Bulan Odysseus bertahan hingga 20 jam lebih
Indonesia
•
28 Feb 2024

Studi sebut jantung manusia dapat tumbuhkan kembali sel otot pascaserangan jantung
Indonesia
•
20 Jan 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
