Bisnis bunga hias tetap ‘elok’ di tengah pandemik

Bisnis bunga hias tetap ‘elok’ di tengah pandemik
Beberapa jenis adenium di toko bunga hias milik Hendy di Nganjuk, Jawa Timur. (Indonesia Window/Raihanatul Radhwa)

Nganjuk, Jawa Timur (Indonesia Window) – Pandemik COVID-19 telah menyebabkan sektor ekonomi melambat, bahkan beberapa bidang usaha terpaksa terhenti.

Pendapatan sebagian besar masyarakat di tanah air menurun, dan tak sedikit pula yang kehilangan pekerjaan.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi para petani bunga hias adenium.

Permintaan masyarakat akan bunga indah yang memiliki berbagai spesies ini justru meningkat di tengah pandemik.

Menurut Hendy, petani adenium yang tinggal di Pace, Kabupetan Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, permintaan adenium meningkat saat pandemik karena bertanam dan merawat bunga hias menjadi salah satu alternatif kegiatan di rumah selama pemerintah menerapkan kebijakan menjaga jarak sosial dan fisik.

Bahkan, dia mengatakan sempat kewalahan melayani pesanan karena jumlah indukan bunga yang menghasilkan biji adenium miliknya terbatas.

“Agak sulit sekarang ini membeli indukan adenium dari teman yang juga punya bisnis yang sama. Makanya, saya lebih fokus mencari indukan adenium yang dimiliki perorangan. Kadang pemiliknya tidak menyadari tingginya harga jual bunga adeniumnya. Tapi saya tetap membeli dengan harga yang pantas,” ujarnya saat ditemui Indonesia Window pada Jumat (18/9).

Hendy mematok 300 rupiah/biji adenium, dengan jumlah minimal 2.000 biji untuk sekali pemesanan.

Dalam mengelola usahanya dia mengatur pendapatannya menjadi tiga, yakni masing-masing 30 persen untuk biaya operasional dan pengembangan, sedangkan sisanya digunakan untuk keperluan rumah tangga.

Modal pengembangan di antaranya dia gunakan untuk membeli indukan adenium dari spesies yang belum dimilikinya.

Selain menjual bibit, Hendy juga menjual adenium dalam bentuk anakan setinggi 20-30 cm.

Anakan adenium tersebut biasanya dibeli oleh para penjual bunga dengan harga 3.000 rupiah per polybag (kantong tanaman) untuk dijual kembali seharga 5.000 rupiah.

Para penjual bunga yang menjadi langganan Hendy juga mengisahkan manisnya keuntungan menjual bunga dari keluarga Apocynaceae itu.

Adenium sebenarnya juga sangat berpotensi sebagai komoditi ekspor.

Thailand adalah salah satu negara tujuan utama ekspor bibit adenium.

Namun, potensi tersebut belum dijajaki lebih jauh oleh para pebisnis bunga di tanah air karena kurangnya pengetahuan mereka tentang prosedur ekspor dan kesulitan dalam bahasa.

“Saya pernah dapat permintaan dari Thailand. Tapi karena membayangkan kerumitan ekspor dan kendala bahasa, akhirnya saya jawab stok habis,” ujar Hendy.

Bisnis bunga hias tetap ‘elok’ di tengah pandemik
Hendy, pebisnis bunga hias adenium di Ngajuk, Jawa Timur. (Indonesia Window/Raihanatul Radhwa)

Jenis

Adenium sebenarnya bukanlah bunga yang langka.

Bahkan, bunga dengan aneka warna itu sering terlihat di banyak pekarangan rumah karena tidak membutuhkan perawatan khusus.

Adenium bahkan mampu hidup di padang pasir yang kering, seperti di habitat asalnya, Afrika.

Karenanya, adenium juga dikenal dengan sebutan ‘mawar gurun’ atau ‘mawar padang pasir’.

Dengan keuletan dan keterampilan yang terlatih, siapa pun dapat menyilangkan beberapa jenis adenium untuk mendapatkan varietas-varietas baru yang lebih menarik.

Selain itu, batang adenium berbonggol dan menyerupai bonsai karena pertumbuhannya yang lambat, semakin digemari oleh para pecinta tanaman hias.

Dari puluhan jenis adenium, obesum adalah jenis yang memiliki variasi warna bunga paling beragam dari putih, merah, merah muda, kekuningan, keunguan, hingga variasi dua warna.

Teknik stek yang kreatif dapat menghasilkan satu batang adenium yang berbunga lebih dari satu jenis.

Saat ini para penggemar adenium sedang mengusahakan mengembangkan varietas berbunga biru (blue flower obesum).

Mereka saling bertukar informasi melalui media sosial, seperti Facebook, termasuk untuk mengembangkan bisnis lebih luas.

Hendy sendiri mendapat pelanggan bibitnya dari jejaring sosial di Facebook.

Awalnya memang ada keraguan apakah calon pembeli yang memesan bibitnya dapat dipercaya, tuturnya.

Namun setelah mempelajari mekanisme dalam grup, dia kini dapat mengetahui mana calon pembeli serius dan pembeli yang terindikasi penipu.

Dia mengatakan para penipu sangat mungkin merugikan bisnis bunga, karenanya anggota grup yang tertipu akan segera memberi sanksi sosial dengan memberi testimoni bahwa akun tertentu telah melakukan penipuan sehingga hal tersebut dapat diantisipasi di kemudian hari.

Sayangnya, acap kali para penipu membuat akun-akun baru, sehingga sulit untuk langsung dideteksi.

Hendy menyarankan para pebisnis bunga hias untuk meneliti terlebih dahulu setiap akun calon pembeli sebelum melakukan transaksi.

Laporan: Raihanatul Radhwa

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here