Badan Antariksa Rusia lengkapi kosmonot dengan senjata api

Badan Antariksa Rusia lengkapi kosmonot dengan senjata api
Ilustrasi. (Photo by Quentin Kemmel on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Senjata api kemungkinan dimasukkan dalam kit survival (perlengkapan bertahan hidup) darurat di pesawat ruang angkasa Orel Rusia generasi berikutnya, menurut juru bicara badan antariksa Rusia Roscosmos seperti yang dilaporkan kantor berita Rusia Sputnik.

Kit survival untuk pesawat ruang angkasa kargo Orel generasi berikutnya akan dibangun pada tahap pengembangan (pesawat ruang angkasa) selanjutnya,” kata juru bicara itu, seraya menambahkan bahwa Roscosmos sedang “mempertimbangkan pilihan (berbeda)” berkaiatan dengan memasukkan senjata api ke dalam perlengkapan darurat.

Senjata api bisa sangat diperlukan jika terjadi pendaratan darurat. Awak pesawat ruang angkasa dapat menggunakannya untuk memberi sinyal bahaya, berburu atau melindungi diri mereka sendiri.

Kit survival yang melengkapi kosmonot Rusia saat ini tidak termasuk senjata api.

Pesawat ruang angkasa Orel berawak yang baru, yang sebelumnya dikenal sebagai Federatsiya, akan mengirimkan orang dan kargo ke orbit Bumi yang rendah, serta ke Bulan.

Awaknya akan terdiri atas hingga empat orang dan pesawat ruang angkasa itu akan tetap berada di orbit selama paling lama 30 hari dalam mode penerbangan otomatis, dan hingga satu tahun sebagai bagian dari sistem stasiun ruang angkasa.

Pesawat ruang angkasa  itu diatur untuk menggantikan roket Soyuz, yang saat ini merupakan satu-satunya wahana mengangkut para astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Ketua Roscosmos Dmitry Rogozin mengatakan sebelumnya bahwa uji penerbangan Orel akan selesai pada 2028.

Kosmonot Rusia secara resmi dipersenjatai dengan pistol TP-82 hingga 2007. Pistol tiga laras itu dirancang di masa Uni Soviet bagi kosmonot jika mereka tidak sengaja mendarat di hutan belantara.

Pistol khusus itu dapat digunakan untuk berburu dan membela diri serta memberikan sinyal minta tolong (SOS) secara visual.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here