Ayuba Suleiman Diallo, budak Afrika yang mulia

Lukisan diri Ayuba Suleiman Diallo yang mengenakan baju dan sorban putih serta mengalungkan buku kecil berwarna merah menjadi karya yang sangat istimewa karena bukan saja gambar itu merupakan yang pertama menampilkan seorang kulit hitam, tapi juga bagaimana bekas budak itu digambarkan oleh si pelukis. (Foto: Istimewa)

Jakarta (Indonesia Window) – Dia memang bukan sahabat Nabi ﷺ Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu, dan tak mungkin menyamainya karena generasi tersebut adalah yang terbaik sepanjang zaman.

Namun, kisah hidup Ayuba Suleiman Diallo mengingatkan kita akan Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu, budak kulit hitam yang dianggap hina oleh manusia di bumi, namun suara terompahnya terdengar oleh Rasulullah ﷺ di surga.

Dia adalah Ayuba Suleiman Diallo (1701-1773) yang lahir dari keluarga Muslim terpandang di wilayah bagian timur Senegal, Afrika.

Kecerdasan dan memorinya yang kuat membuat Ayuba mampu menghapal Al-Quran di usia 15 tahun, lalu melanjutkan pendidikan di Sekolah Hukum Islam Maliki di negerinya.

Namun, Jalur Perbudakan Atlantik yang dikenal dengan Transatlantic slave trade – yang dimulai pada abad ke-15 oleh penjajah Portugis dan sejumlah kerajaan Eropa lainnya – mengubah jalan hidup Ayuba secara tiba-tiba dan drastis.

Pada usia 30 tahun Ayuba ditangkap dan dikirim ke Amerika untuk dijadikan budak.

Selama menjadi budak di perkebunan, Ayuba mendapat siksaan dan hinaan, namun dia tetap teguh dalam iman Islam dan selalu berusaha menjalankan sholat lima waktu dalam sehari meskipun dirinya harus lari ke hutan agar tidak ketahuan oleh orang-orang kulit putih yang menawan dirinya.

Hingga suatu ketika saat dia sedang sholat seorang anak kulit putih melemparkan kotoran ke wajahnya. Ayuba pun memutuskan lari dari perkebunan itu, namun ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

Dari penjara Ayuba menulis surat untuk ayahnya di Afrika, tapi direbut oleh James Edward Oglethorpe, Direktur Perusahaan Inggris di Afrika dan pendiri koloni Georgia di Amerika Serikat.

Setelah membaca surat itu, Oglethorpe tersentuh dan memutuskan bahwa Ayuba harus dibebaskan dan dikirim ke Inggris.

Saat tiba di negeri itu pada 1733, Ayuba disambut sebagai orang yang bebas dan menjalin hubungan dengan kaum kelas atas Inggris. Dia bahkan sering berdebat dengan para pendeta Kristen dan pastor.

Di masa itu, ketika masyarakat masih bersikap rasis terhadap orang-orang kulit berwarna, mereka justru terkesima dengan kecerdasan Ayuba, juga keyakinan Islam dan kesolihan dirinya.

Pesona Ayuba menarik perhatian William Hoare, seorang pelukis terkenal di Inggris yang membujuknya untuk dilukis.

“Budak yang beruntung”

Lukisan diri Ayuba Suleiman Diallo yang mengenakan baju dan sorban putih serta mengalungkan buku kecil berwarna merah menjadi karya yang sangat istimewa karena bukan saja gambar itu merupakan yang pertama menampilkan seorang kulit hitam, tapi juga bagaimana bekas budak itu digambarkan oleh si pelukis.

Orang-orang kulit hitam dalam gambar-gambar pada abad ke-18 selalu ditunjukkan dengan raut muka yang bengis, jahat dan sedang melakukan tindakan tidak berperikemanusiaan. Orang kulit hitam juga bukan model lukisan di masa itu, namun digambar hanya sebagai latar belakang yang memperlihatkan kejahatan.

Namun, lukisan diri Ayuba Suleiman Diallo yang dinamakan The Fortunate Slave atau “Budak Yang Beruntung” tidak hanya menggambarkan rupa yang manusiawi, namun juga menyiratkan pribadi yang mulia dari seorang bekas budak Muslim Afrika.

Postur bahu dan dada Ayuba dilukis sedemikian lurus dan proporsional sehingga memancarkan pribadi yang terhormat dan mulia.

Raut wajah Ayuba juga tampak tenang dan berwibawa, sama sekali tidak seperti muka orang kulit hitam yang digambarkan di masa itu.

Satu hal yang juga sangat mengagumkan dari lukisan The Fortunate Slave adalah buku kecil berwarna merah yang dikalungkan di leher Ayuba.

Buku tersebut adalah salah satu dari tiga salinan Al-Quran yang ditulis Ayuba selama di penjara, yang seluruhnya berasal dari hapalannya.

The Fortunate Slave adalah rangkuman kisah hidup seorang Muslim Afrika yang dijadikan budak dan mengalami penyiksaan, namun meraih penghormatan dari masyarakat yang menganggap dirinya rendah.

Lukisan itu juga memperlihatkan seorang Muslim kulit hitam yang tak pernah kehilangan kebanggaannya akan identitas Islam walau hidup dalam perbudakan.

Sumber: OneParth Network

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan