
AS siaga hadapi kembalinya lalat pemakan daging yang hilang selama puluhan tahun

Ilustrasi. (Philip Veater on Unsplash)
New World screwworm (NWS) merupakan hama parasit berbahaya yang menyerang ternak, hewan peliharaan, satwa liar, dan, dalam kasus yang jarang terjadi, manusia. Larvanya menyusup ke dalam daging hewan hidup melalui luka terbuka dan memakan jaringan hidup, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan yang parah pada inang yang terinfeksi.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Otoritas pertanian Amerika Serikat (AS) mengintensifkan upaya pengendalian dan pemberantasan lalat sekrup atau New World screwworm (NWS) setelah mengonfirmasi adanya kasus domestik pertama dalam beberapa dekade terakhir.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (U.S. Department of Agriculture/USDA) pada Rabu (3/6) mengumumkan larva NWS ditemukan di area pusar seekor anak sapi berusia tiga pekan di Zavala County, Texas. Sejauh ini, belum ditemukan adanya kasus lain.
Menteri Pertanian AS Brooke Rollins pada Kamis (4/6) menjelaskan pihak berwenang federal dan negara bagian sedang menerapkan sepenuhnya rencana tanggap darurat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut di dalam negeri. Langkah-langkah tersebut meliputi penetapan zona kontrol radius 20 kilometer di sekitar lokasi penemuan kasus infeksi, pemberlakuan karantina, pembatasan pergerakan ternak, serta pengawasan yang diperketat.
Pihak berwenang juga telah memperluas program pelepasliaran strategis lalat NWS yang telah disterilkan, meningkatkan upaya penangkapan lalat NWS di sepanjang perbatasan, serta mengintensifkan pemantauan satwa liar. Menurut Rollins, sekitar 8 juta lalat yang telah disterilkan dilepasliarkan setiap pekan melalui operasi udara dan darat.
NWS merupakan hama parasit berbahaya yang menyerang ternak, hewan peliharaan, satwa liar, dan, dalam kasus yang jarang terjadi, manusia. Larvanya menyusup ke dalam daging hewan hidup melalui luka terbuka dan memakan jaringan hidup, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan yang parah pada inang yang terinfeksi.
Meskipun telah diberantas dari Amerika Serikat beberapa dekade lalu, hama berbahaya ini masih ditemukan di beberapa bagian Amerika Selatan, di mana infeksi pada hewan dan manusia terus terjadi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hama ini telah menyebar ke utara melalui Amerika Tengah dan Meksiko, menurut USDA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Rusia akan bawa tanah dari Venus ke Bumi
Indonesia
•
18 Aug 2020

Kasus pertama flu burung H5N1 ditemukan pada anjing laut gajah di California
Indonesia
•
27 Feb 2026

Teknologi ubah situs tambang terkenal jadi industri yang lebih cerdas dan aman
Indonesia
•
07 Aug 2023

Peneliti China dan Yunani kembangkan dataset iklim baru
Indonesia
•
03 Apr 2023


Berita Terbaru

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026

China perluas stasiun luar angkasa Tiangong, siap berubah jadi kompleks antariksa raksasa
Indonesia
•
24 Jun 2026
