
Feature – Rasa takut, kelegaan, dan impian: Pengakuan saksi mata terkait gejolak di Suriah

Foto yang diabadikan pada 8 Desember 2024 ini menunjukkan kepulan asap tebal pascaledakan di Damaskus, Suriah. Pasukan oposisi bersenjata Suriah merebut kendali penuh atas Damaskus pada Ahad (8/12), sekaligus mengakhiri kekuasaan keluarga Assad selama lebih dari lima dekade. (Xinhua/Monsef Memari)
Aliansi militan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menyerbu Kota Aleppo, tidak hanya merebut kembali benteng-benteng pertahanan mereka sebelumnya, tetapi juga area-area yang belum pernah mereka kuasai. Dalam sekejap, garis depan pertempuran memanjang ratusan kilometer ke arah selatan, seolah-olah konflik berlangsung kembali di tahun-tahun awalnya.
Damaskus, Suriah (Xinhua/Indonesia Window) – Setelah menghabiskan hampir 14 tahun meliput konflik Suriah, saya pikir saya terbiasa dengan sifat perangnya yang tidak menentu, hingga peristiwa pada 27 November menghadirkan pengingat yang jelas bahwa kenormalan di Suriah masih sulit dipahami.Pagi itu, aliansi militan pimpinan kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) melancarkan serangan besar-besaran di daerah pedesaan di Aleppo, Suriah utara. Awalnya, hal ini tampak seperti gejolak lain dalam konflik yang panjang dan pahit, satu dari banyak konflik yang telah saya liput selama bertahun-tahun.Namun, pada 29 November malam, terlihat jelas bahwa ini bukanlah operasi militer biasa. Aliansi militan itu menyerbu Kota Aleppo, tidak hanya merebut kembali benteng-benteng pertahanan mereka sebelumnya, tetapi juga area-area yang belum pernah mereka kuasai. Dalam sekejap, garis depan pertempuran memanjang ratusan kilometer ke arah selatan, seolah-olah konflik berlangsung kembali di tahun-tahun awalnya.Peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung itu menimbulkan perasaan déjà vu. Pada 2013 dan 2014, selama dua tahun pertama perang saudara tersebut, saya memberanikan diri ke garis depan pertempuran, berjalan melewati pecahan kaca dan tulangan baja yang bengkok dengan hati-hati. Saya menyaksikan lingkungan permukiman telah menjadi puing-puing, menghirup aroma yang menyengat dari logam yang hangus terbakar, darah, dan debu, serta melihat rumah-rumah yang luluh lantak.Seiring berjalannya waktu, saya belajar membedakan berbagai kaliber senjata hanya dari suaranya saja. Pengalaman ini meninggalkan luka yang mendalam, merampas ketenangan saya, dan menanamkan benih ketakutan, khawatir bahwa horor di masa lalu mungkin akan kembali.
Warga setempat melakukan aksi unjuk rasa di Damaskus, Suriah, pada 8 Desember 2024. (Xinhua/Ammar Safarjalani)
Orang-orang membeli kentang di sebuah pasar di Kota Hama, Suriah tengah, pada 4 Desember 2024. (Xinhua/Str)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Marco Rubio: AS dan Iran akan lanjutkan perundingan teknis di Swiss pekan depan
Indonesia
•
25 Jun 2026

Arab Saudi akan hapus sistem sponsor, untungkan ekspatriat
Indonesia
•
28 Oct 2020

Israel kecam keputusan Inggris, Australia, dan Kanada akui Negara Palestina
Indonesia
•
23 Sep 2025

Putin sebut hubungan Rusia-China didasarkan pada kepentingan bersama, kondusif bagi stabilitas dunia
Indonesia
•
07 Jun 2024


Berita Terbaru

Serangan di bandara Riyadh tewaskan 12 orang dan lukai 309 lainnya saat Houthi-Arab Saudi saling serang
Indonesia
•
11 Oct 2026

Telaah – Tiga tahun berlalu: Gaza hancur, 74.000 lebih tewas, mengapa perdamaian masih jauh?
Indonesia
•
08 Oct 2026

3 tahun berlalu, Israel masih memburu pelaku 7 Oktober: 2.000 orang disebut masih hidup
Indonesia
•
07 Oct 2026

Dari warisan apartheid hingga politik ras, ini sumber ketegangan AS–Afsel
Indonesia
•
07 Oct 2026
